Tampilkan postingan dengan label kesabaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesabaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Keadaan lapar adalah lebih baik

Ibnu Mas’ud berkata, “Pernah ketika Nabi saw melihat pada wajah para sahabat yang sedang menanggung lapar, beliau bersabda, “Bergembiralah kamu sekalian karena pada suatu waktu kelak setiap orang dari kamu dapat makan sebaki makanan dan akan ditambah lagi sebanyak itu”.
Jawab para sahabat, “Ya Rosulullah, kalau begiotu kami pada waktu itu akan lebih keadaannya dari sekarang”.
Jawab Nabi saw, “Bahkan kamu sekarang (kelaparan) adalah lebih baik daripada waktu yang akan datang (kaya)” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)

Jumat, 15 April 2011

Tidak Perlu Mendoakan Keburukan Terhadap Orang yg Mendhalimimu

Tidak Perlu Mendoakan Keburukan Terhadap Orang yg Mendhalimimu

Suatu hari Aisyah ra kehilangan sesuatu. Ia pun berdoa agar orang yang mencurinya celaka. Maka Rosulullah saw berkata kepadanya, "Jangan kau ringankan dosanya (dengan doa burukmu itu)" (HR Ahmad, Abu Daud)

Rabu, 30 Maret 2011

Sabar dalam doa, insyaALLAH akan dikabulkan

Sahabatku, sesungguhnya ada satu hal yang membuat para nabi dapat bergembira ketika menerima penderitaan. Yaitu, mereka telah memutuskan berlari menuju ALLAH. Mereka terus-menerus percaya dan meyakini bahwa ALLAH sangat-sangat adil dan penyayang. Jika ada satu dua penderitaan, itu hanya jalan menuju kebahagiaan. Nabi Zakariya as adalah nabi yang sangat sabar. Dia berdoa selama empat puluh tahun untuk bisa mendapatkan anak. EMpat puluh tahun dia berdoa, empat puluh tahun juga doanya tidak dijawab. Namun karena dia telah "berlari di dalam ALLAH" dia terus berdoa sampai akhirnya berbahagia (mendapatkan anak). (La Tahzan for Teens, 2008)

InsyaALLAH, hamba termasuk orang yang sabar

Beriman berarti berlari hanya kepada ALLAH. Apapun masalahnya, ALLAH Mahatahu dan akan memberikan jalan yang terbaik. Seorang manusia muda memberikan teladan yang sangat baik. Seorang manusia muda memberikan teladan yang sangat baik. Dia begitu pasrah ketika bapaknya diperintahkan ALLAH untuk menyembelihnya,  "Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Ash Shaaffaat 37) Inilah sikap iman yang mau menerima apa pun keputusan/ketetapan ALLAH. (La Tahzan for Teens, 2008)

nb : Apapun ujian/musibah/ketetapan ALLAH yang menimpamu, semoga ALLAH menjadikanmu termasuk orang-orang yang bersabar.

Jangan bersedih

Jangan bersedih karena kesedihan dapat membuat kita terkejut terhadap masa lalu, membuat kita takut menghadapi masa depan, dan menyia-nyiakan hidup kita pada hari yang sedang dijalani : hari ini. Jangan bersedih sebab kesedihan dapat menghancurkan hati dan memudarkan cita-cita. Jangan bersedih, karena bersedih akan menyenangkan hati musuh kita, menyusahkan teman, menggembirakan yang dengki, dan mengubah berbagai apa yang akan menjadi hak kita.

Jangan bersedih, karena kesedihan sama artinya menentang qadha, memusuhi ketetapan ALLAH.(La Tahzan for Teens, 2008)

Jangan bersedih, karena bersedih akan membuat setan tertawa setelah berhasil menipu kita untuk menentang keputusan/takdir ALLAH dan tidak mensyukuri nikmat ALLAH.

Kesabaran Muhammad bin Ali at-Tirmidzi

"Apabila guru (Muhammad bin Ali at-Tirmidzi) marah kepada kalian, apakah kalian tahu?" seseorang bertanya kepada keluarga Tirmidzi.

"Ya, kami tahu" mereka menjawab, "Setiap kali ia marah kepada kami, maka ia bersikap lebih ramah daripada biasanya. Kemudian ia tidak mau makan dan minum. Ia menangis dan memohon kepada ALLAH : "Ya ALLAH, apa perbuatanku yg  menimbulkan murka-MU sehingga ENGKAU membuat keluargaku sendiri menentangku? Ya ALLAH, aku mohon ampun-MU! Tunjukkanlah mereka jalan yang benar!" Apabila ia bersikap seperti demikian, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segeralah kamu bertaubat agar ia lepas dari dukacitanya itu" (Kisah Para SUfi (Wali), 1998)

Sabtu, 19 Maret 2011

Kesabaran Jalaluddin Ar-Rumi

Suatu hari Jalaluddin Ar-Rumi bertemu dg dua orang yg  sedang bercek-cok. Salah seorang diantaranya berkata, "Kalau kamu berkata sepatah kata, aku akan membalas dg sepuluh kata". Mendengar omelan itu, Jalaluddin menyela, "Contohlah aku! kalau kalian berkata kepadaku 1000 kali, aku tidak akan membalas sepatah kata pun". Seketika itu juga keduanya bersimpuh dikakinya, dan kembali rukun (Kisah Para Sufi (Wali), 1998)

Selasa, 01 Maret 2011

Kesabaran Fatimah az-Zahra binti Rosulullah

Fatimah az-Zahra binti Rosulullah pernah mengalami kelaparan selama beberapa hari. Saat itu, suaminya Ali ra melihat wajahnya pucat pasi. Maka ia bertanya kepadanya, "Kenapa engkau pucat demikian, wahai Fatimah?"

Fatimah menjawab, "Sejak tiga hari yang lalu kami tidak mempunyai makanan di rumah!". Ali berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku?". Ia menjawab, "Sebab, pada malam pernikahan kita dahulu, Rosulullah saw pernah berpesan kepadaku seperti ini : "Wahai Fatimah, Jika Ali ra datang kepadamu dengan membawa sesuatu, makanlah! Namun, bila ia tidak membawa apa-apa, janganlah sekali-kali menanyakannya" (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)

Meratapi Kegagalan = Kufur Atas Keputusan ALLAH

Sesungguhnya meratapi kegagalan masa lalu, menangisi penderitaan dan mengumpat kekalahan itu, dalam pandangan islam merupakan salah satu bentuk kekufuran kepada ALLAH dan ketidakrelaan atas ketentuan dan ketetapan-NYA (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)

Kamis, 24 Februari 2011

Bersabar Terhadap Ujian Adalah Kewajiban

Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Luqman 17)

Bersabar atas hinaan

Bersabarlah Terhadap Orang Yg Menghinamu, Jauhi Saja Mereka Tanpa Membalas Hinaannya

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (Al Muzzammil 10)

Kesabaran Ali bin Abi Thalib ra

Ali pernah memanggil budaknya sampai mengulang 3 kali, namun tak ada jawaban. Maka dicarinya sibudak, lalu dilihatnya sedang berbaring. Ali berkata, "Apakah engkau tak mendengar?". "Ya, saya mendengar". "Lalu, mengapa engkau tak menjawab?" tanya Ali. "Karena saya yakin bahwa tuan tak akan menghukumku!". Mendengar itu, Ali berkata, "Pergilah, engkau kumerdekakan" (Al-Ghazali)

Kesabaran Ahnaf bin Qais

Seorang laki2 mencaci Ahnaf bin Qais, sementara ia tidak menjawabnya. Namun orang itu terus mengikutinya sambil menujukan caciannya. Sehingga ketika telah berada dekat dg kampung tempat tinggalnya, Ahnaf berhenti dan berkata, "Kalau masih ada yg tersisa dari cacian anda, katakanlah sekarang. Agar tak terdengar oleh beberapa anak2 nakal dikampungku, dan mengganggu anda karenanya (Al-Ghazali)

Jumat, 18 Februari 2011

Kesabaran Uwais Al-Qaraniy

Dikisahkan bahwa Uwais Al-Qaraniy sering dilempari batu oleh sekelompok anak-anak, setiap kali mereka melihatnya. Lalu katanya, "Hai saudara-saudaraku, kalau memang harus kalian melempari aku, tolong lempari aku dengan batu yg kecil-kecil saja. Agar kalian tak melukai kakiku yg akan menghalangiku untuk sholat dg berdiri" (Al Ghazali)

Kesabaran Dari Qais bin Ashim

Pernah ditanyakan kepada ahnaf bin Qais, "Dari siapakah anda belajar menjadi seorang penyantun (penyabar dan pemaaf)?"
"Dari Qais bin Ashim", jawab Ahnaf
"Sampai seberapa jauh kesantunannya itu?" tanya orang itu
"Pada suatu ketika, ia sedang duduk di rumahnya, ketika seorang budak perempuan membawakan untuknya daging bakar di atas sebuah nampan yang panas. Malang baginya, nampan itu terjatuh diatas kepala seorang bayi, putra Qais, yang menyebabkan kematiannya. Si budak itu menjadi amat ketakutan, namun Qais berkata kepadanya, "Tidak usah kamu merasa takut, sejak kini kumerdekakan kamu, semata-mata demi mengharap keridhaan ALLAH SWT" (Al-Ghazali)

Kesabaran Abu Utsman Al-Hiriy : hukuman abu

Suatu ketika Abu Utsman Al-Hiriy sedang berjalan disebuah lorong sempit, ketika seseorang -dari atap sebuah rumah- melemparkan sebuah baskom penuh abu diatas kepalanya. Segera ia turun dari tunggangannya dan melakukan sujud syukur, kemudian menepiskan abu itu dari pakaiannya. Ia pun melanjutkan perjalanannya tanpa mengatakan sesuatu. Beberapa diantara kawan-kawannya berkata kepadanya, "Tidakkah seharusnya anda memerahi mereka?". Ia menjawab, "Orang yang layak baginya memperoleh hukuman api (neraka), lalu (oleh ALLAH) diberi keringanan dengan hanya menerima hukuman dengan abu, tidaklah patut baginya untuk marah!" (Al-Ghazali)

Kesabaran Abu Utsman AL-Hiriy

Suatu ketika, Abu Utsman AL-Hiriy diajak makan oleh seorang yang sengaja ingin mengujinya. Maka ketika sampai dirumahnya, orang itu berkata, "Tak ada urusanku denganmu!". Mendengar itu, Abu Utsman segera pulang. Tetapi, belum begitu jauh ia melangkah, si pemilik rumah memanggilnya kembali. Dan kembalilah ia. Namun ketika sampai di depan rumahnya, orang itu berkata lagi, "Hai Ustadz, pulanglah!". Dan ia pun melangkah untuk pulang, sedangkan si pemilik rumah membiarkannya pergi sebentar, lalu memanggilnya kembali, untuk ketiga kalinya. Abu Utsman menurut saja, dan kembali mendatangi orang itu. Ketika sampai didepan pintunya, orang itu berkata, "Aku tidak punya waktu untukmu!". Dan sekali lagi Abu Utsman melangkah pulang, tetapi orang itu memanggilnya lagi. Begitulah seterusnya, berulang kali ia memperlakukan ABu Utsman seperti itu, sementara Abu Utsman tidak menunjukkan kekesalan hatinya sedikit pun. Sampai akhirnya, si pemilik rumah bersimpuh dibawah kedua kaki Abu Utsman, seraya berkata, "Wahai Ustadz, sesungguhnya aku hanya ingin menguji kesabaranmu. Betapa mulianya akhlak Anda!". Maka berkatalah Abu Utsman, "Sesungguhnya yg anda lihat dariku itu, tak lebih dari perangai seekor anjing (merasa tak berharga dihadapan ALLAH), apabila dipanggil, ia segera datang, dan apabila dibentak, ia pun terdiam". (Al-Ghazali)

Kesabaran Ibrahim bin Adham

Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Ibrahim bin Adham  pergi ke suatu tempat di padang pasir, dan berjumpa dengan seorang tentara yang menegurnya: "Engkau seorang hamba/budak?" "Ya" jawab Ibrahim. Orang itu bertanya lagi: "Dimana tempat yang dihuni orang banyak?". Mendengar itu, ibrahim menunjuk ke tempat pekuburan. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya: "Yang saya tanyakan adalah tempat yg banyak penghuninya!" Jawab Ibrahim: "Itulah pekuburan". Merasa dipermainkan, tentara itu menjadi marah dan memukul kepala Ibrahim dg sebuah cambuk, sehingga menyebabkannya terluka dan berdarah. Lalu dikembalikannya ke kota dan berjumpa dg para pengikutnya. Mereka menanyakan: "Apa yg terjadi?" Tentara itu memberi tahu mereka mengenai pertanyaannya serta jawaban yg diterimanya. Orang-orang itu menjelaskan: "Ini adalah Ibrahim bin Adham!". Mendengar itu si tentara terkejut dan segera turun dari kudanya, lalu mencium kedua tangan dan kaki Ibrahim, sambil meminta maaf darinya.

Setelah itu beberapa orang menanyakan kepada Ibrahim, "Mengapa anda mengatakan kepadanya bahwa Anda seorang hamba/budak?" Jawab Ibrahim: "Ia tidak menanyakan kepadaku: "Hamba siapa anda?" tetapi bertanya : "Apakah anda seorang hamba/budak?" Maka aku pun menjawab "Ya". Karena aku adalah hamba ALLAH. Dan ketika ia memukul kepalaku, kumintakan surga baginya dari ALLAH SWT". Seorang dari mereka bertanya, "Mengapa? Bukankah ia telah menzalimi anda?". Jawab Ibrahim : "Aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena (bersabar atas) perbuatannya itu. Maka aku tak mau bagian yang kuperoleh darinya berupa kebaikan (pahala), sedangkan bagian yg diperolehnya dariku berupa keburukan (dosa karena telah memukulnya)". (Al-Ghazali)

Minggu, 16 Januari 2011

Tingkatan dalam kesabaran

Sesungguhnya bencana2 itu datang kpd para Shalihin, sbgaimana datang kpdamu. Tetapi mrka bersabar, bahkan ada yg meleburkan diri dlm bencana & kesabarannya sekaligus. Merasa berat bersabar terjadi krn lemahnya keimanan, keimanannya masih kecil. Bersabar lahir ketika keimanan menginjak baligh, & mnerima takdir dg sepenuh hati ktika keimanan mencapai tingkatan paling dekat (dg ALLAH). (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Sabtu, 15 Januari 2011

Kenapa kamu tidak bersabar

Abu Abdullah mengadu kpd Rosulullah saw (krn disiksa kaum kafir Qurais), "Tidakkah anda memohon pertolongan? Tidakkah anda berdoa untuk kami?". Maka Beliau menjawab, "Sungguh telah ada pada umat sebelum kamu, seseorang yg ditangkap lalu lalu dibuatkan untuknya lubang galian di tanah kmd dilemparkan didalamnya, kmd dihadirkanlah gergaji, lalu gergaji itu diletakkan diatas kepalanya dan dia dibelah menjadi dua bagian, dan disisir dg sisir besi apa yg sebelum daging dan tulangnya, ternyata hal tersebut tdk menghalang-halanginya dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari Khan'a ke Hadhramaut tdk merasa takut kecuali kpd Allah dari serigala atas kambing2nya, akan tetapi kamu tergesa-gesa (tidak sabaran)". (HR Bukhari)