Jumat, 07 Juni 2013

Sumber Liberalisme Wahabi

Sumber Liberalisme Wahabi

Pada tahun 2009, saya terlibat perdebatan sengit di Surabaya dengan seorang tokoh Salafi dari Malang, berinisial AH. Di bagian awal buku yang dipromosikannya pada waktu itu, ia menulis, bahwa madzhab al-Asy’ari merupakan sumber pemikiran liberal. Saya merasa heran dengan asumsi murahan AH yang mengatakan bahwa pemikiran liberal sumbernya dari madzhab al-Asy’ari. Logika dan paradigma apa yang dijadikan barometer untuk menilai madzhab al-Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal. Seandainya ada seseorang berpendapat bahwa ajaran Islam itu sumber kejahatan pencurian dan perzinahan, karena ia melihat dalam kitab-kitab tafsir ada beberapa ayat yang turun berkaitan dengan sahabat Nabi Saw. yang mencuri dan berzina, apakah AH akan menerima logika berpikir seperti ini? Tentu saja dia tidak akan menerima.

Seandainya AH berkomunikasi terlebih dahulu dengan ulama-ulama Wahhabi yang menjadi gurunya di Saudi Arabia, mungkin ia tidak akan menulis tuduhan keji seperti itu. Karena para ulama Wahhabi sendiri mengakui, bahwa mayoritas ulama dari berbagai bidang, seperti ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli sejarah, gramatika dan lain-lain mengikuti madzhab al-Asy’ari. AH sepertinya tidak pernah membaca sejarah bahwa para ulama yang berhasil membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari.

Dalam sejarah pemikiran Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang dikenal paling tangguh dan hebat dalam arena dialog dan perdebatan. Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar.

AH juga sepertinya tidak tahu sejarah, bahwa ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al-Ghazali dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah. Dari sini layakkah AH menuduh madzhab al-Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal? Bukankah lebih layak kalau dikatakan bahwa liberalisme sumbernya dari Wahhabi.

Sebagaimana dimaklumi, diantara ciri khas liberalisme, adalah upaya desakralisasi otoritas ulama. Ketika pendapat dan hasil ijtihad ulama diajukan kepada kaum liberal, maka dengan serta merta mereka akan menolaknya dengan alasan para ulama juga manusia biasa seperti halnya mereka. Kaum Wahhabi juga demikian, ketika pendapat dan hasil ijtihad ulama diajukan kepada mereka, maka sudah barang tentu mereka akan menolaknya, dengan bahasa yang terkadang lebih halus, “kita kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Bahasa yang mengesankan bahwa hasil ijtihad ulama tidak mengikuti al-Qur’an dan Sunnah.

Memang tidak aneh kalau orang Wahhabi seperti AH menuduh madzhab al-Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal. Bukankah pendiri aliran Wahhabi sendiri, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi telah mengatakan bahwa kitab-kitab fiqih merupakan sumber ajaran syirik.

Dalam kitab ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah (kumpulan fatwa-fatwa ulama Wahhabi sejak Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, sang pendiri aliran Wahhabi), yang dihimpun oleh Syaikh Abdurrahman bin Muhammad an-Najdi al-Wahhabi, juz 3 halaman 59, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengeluarkan statemen yang cukup ekstrem bahwa ilmu fiqih merupakan sumber kesyirikan. Sedangkan para ulama fuqaha yang menulis kitab-kitab fiqih, ia samakan dengan syetan-syetan manusia dan jin. Astaghfirullah.

Tidak Perlu Mengikuti Ulama
Kejadian itu agak mirip dengan kejadian berikutnya. Suatu ketika, saya mengisi pengajian di daerah Kesiman Denpasar Timur Bali. Setelah saya memaparkan tentang dalil-dalil bid’ah hasanah dari al-Qur’an dan hadits, lalu saya mengutip pendapat para ulama sejak Khulafaur Rasyidin yang mengakui dan mengamalkan bid’ah hasanah, tiba-tiba seorang Wahhabi angkat bicara dengan nada emosi. Ia berkata begini: “Kita tidak perlu mengikuti imam ini maupun imam itu. Kita kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah saja, titik. Setelah Rasulullah Saw. tidak ada orang yang perlu kita ikuti.” Demikian perkataan orang Wahhabi tersebut dengan suara berapi-api dan nada suara tinggi.

Orang Wahhabi ini sepertinya tidak tahu, bahwa yang memberikan otoritas kepada ulama agar diikuti oleh umat Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah. Ketika kita mengikuti ulama, itu bukan berarti kita meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi kita justru mengikuti al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama yang lebih mengerti dari pada kita. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an al-Karim: “Bertanyalah kamu kepada para ulama apabila kamu tidak tahu.” (QS. an-Nahl ayat 43 dan al-Anbiya’ ayat 7).

Dalam ayat di atas, al-Qur’an memerintahkan kita agar bertanya kepada para ulama ketika kita tidak tahu. Al-Qur’an tidak memerintahkan kita membuka-buka lembaran-lembaran al-Qur’an dan kitab-kitab hadits ketika kita tidak tahu.

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wata’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS. an-Nisa’ ayat 59).

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menuntun kita agar mengikuti Ulil Amri. Yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam ayat tersebut adalah para ulama yang mendalam ilmunya.

Dalam hadits shahih, Rasulullah Saw. bersabda: “Semoga Allah membuat elok pada orang yang mendengar sabdaku, lalu ia mengingatnya, kemudian menyampaikannya seperti yang pernah didengarnya. Karena tidak sedikit orang yang menyampaikan suatu hadits dariku tidak dapat memahaminya.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Tidak sedikit orang yang memperoleh suatu hadits dari seseorang lebih memahami daripada orang yang mendengar hadits itu secara langsung dariku.” (HR. at-Tirmidzi no. 2580, 2581 dan 2583, Abu Dawud no. 3175, Ibn Majah no. 226 dan lain-lain).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa di antara para sahabat Rasul Saw. yang mendengar hadits dari beliau secara langsung, ada yang kurang memahami terhadap makna-makna yang dikandung oleh hadits tersebut. Namun kemudian ia menyampaikan hadits itu kepada murid-muridnya yang terkadang lebih memahami terhadap kandungan maknanya. Pemahaman lebih, terhadap kandungan hadits tersebut menyangkut penggalian hukum-hukum dan masalahmasalah yang nantinya disebut dengan proses istinbath atau ijtihad.

Dari sini dapat dipahami, bahwa di antara para sahabat Nabi Saw. Ada yang kurang mengerti terhadap maksud suatu hadits daripada murid-murid mereka. Dan murid-murid mereka yang memiliki pemahaman lebih terhadap hadits tadi disebut dengan mujtahid. Mujtahid inilah yang menjadi focus pembicaraan dalam hadits shahih berikut ini: “Apabila seorang hakim melakukan ijtihad, lalu ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala. Dan apabila melakukan ijtihad, lalu ijtihadnya keliru, maka ia memperoleh satu pahala.” (HR. al-Bukhari no. 6805).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak semua sahabat Nabi
Saw. yang memiliki penguasaan mendalam terhadap susunan bahasa Arab mampu mengeluarkan fatwa. Dan kesimpulan ini akan semakin kelihatan dengan jelas, apabila kita perhatikan kitab-kitab mushthalah al-hadits yang disusun oleh para hafidz (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang studi ilmu hadits), di sana akan kita dapati bahwa para mufti dari kalangan sahabat Nabi Saw. tidak sampai sepuluh orang. Ada yang mengatakan hanya enam orang. Tetapi sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa sekitar dua ratus orang sahabat Nabi Saw. telah mencapai derajat mujtahid.

Dialog Syaikh Al-Buthi dan Syaikh Al-Albani
Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”
Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”
Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”
Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”
Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”
Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”
Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”
Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”
Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”
Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”
Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”
Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”
Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”
Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”
Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih. Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.


Hadits Ikhtilaf Ummati Rahmatun
Dalam tradisi bermadzhab, perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan dan termasuk khazanah kekayaan fiqih kaum Muslimin.

Dewasa ini, seiring dengan merebaknya aliran Wahhabi, yang cenderung memaksakan pendapatnya kepada orang lain agar diikuti, disebarluaskan wacana bahwa mengikuti madzhab fiqih yang ada merupakan salah satu bentuk kesyirikan dan dilarang dalam agama. Demikian asumsi mereka.

Dalam sebuah diskusi di Mushalla al-Fitrah, Monang Maning Denpasar, ada seorang Wahhabi melakukan protes dengan berkata: “Ustadz, kita tidak perlu mengikuti ulama atau para imam madzhab. Bukankah para imam madzhab itu pendapatnya berbeda-beda. Ustadz harus mengetahui bahwa hadits ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan umat Islam itu merupakan rahmat Allah) itu hadits mursal yang kualitasnya lemah atau dha’if”.

Demikian pernyataan orang Wahhabi tadi yang belakangan diketahui berinisial HA. Pada waktu itu saya menjawab: “Memang hadits ikhtilafu ummati rahmatun, termasuk hadits dha’if. Akan tetapi substansinya terdapat dalam hadits-hadits yang shahih. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibn Umar Ra. yang berkata: “Sepulangnya dari peperangan Ahzab, Rasulullah Saw. bersabda: “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidzah.” (HR. al-Bukhari no. 894). Sebagian sahabat ada yang memahami teks hadits tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar (walaupun waktunya telah berlalu) kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Ketika Nabi Saw. menerima laporan tentang kasus ini, beliau tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami teks hadits beliau.” (HR. al-Bukhari no. 894).

Berkaitan dengan hal tersebut Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra. berkata: “Nabi mendera orang yang minum khamr sebanyak empat puluh kali. Abu Bakar mendera empat puluh kali pula. Sedangkan Umar menderanya delapan puluh kali. Dan kesemuanya adalah sunnah. Akan tetapi, empat puluh kali lebih aku sukai.” (HR. Muslim no. 3220 dan Abi Dawud no.3384). Dalam hadits ini, Ali bin Abi Thalib menetapkan bahwa dera empat puluh kali yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan Abu Bakar, sedang dera delapan puluh kali yang dilakukan oleh Umar kepada orang yang minum khamr, keduanya sama-sama benar. Hadits ini menjadi bukti bahwa perbedaan pendapat di antara sesama mujtahid dalam bidang fiqih, tidak tercela, bahkan eksistensinya diakui berdasarkan hadits tersebut. Seorang ulama salaf dari generasi tabi’in, al-Imam al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: “Perbedaan pendapat di kalangan sahabat Nabi Muhammad Saw. merupakan rahmat bagi manusia.” (Jazil al-Mawahib halaman 21).

Khalifah yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz Ra.  juga berkata: “Aku tidak gembira seandainya para sahabat  Nabi Muhammad Saw. tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama.” (Jazil al-Mawahib halaman 22). Paparan di atas menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan sahabat telah terjadi sejak masa Rasulullah Saw. Dan ternyata perbedaan tersebut dilegitimasi oleh Rasulullah Saw. Dan menjadi rahmat bagi umat Islam sebagaimana diakui oleh ulama salaf yang saleh. Wallahu a’lam.”

Menelanjangi Salafi Wahabi

Menelanjangi Salafi Wahabi

Judul Buku: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan.

Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu.

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan.

Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).

Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti  KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya.

Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan.

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120).

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.

Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif.

Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia.

Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep.

Senin, 27 Februari 2012

ROSULULLAH SAW BERDAKWAH DENGAN AKHLAK MULIA



Diriwayatkan bahwa dalam suatu pertempuran melawan kaum musrikin, tentara islam dipimpin langsung oleh Rosulullah saw sendiri, sedang tentara kaum musrikin dipimpin oleh Da’tsuur. Setelah pertempuran berlangsung beberapa hari lamanya, kedua belah pasukan yg sedang berhadap-hadapan sama-sama menderita kesengsaraan, yaitu keletihan dan kecapean, serta kedahagaan karena kurangnya air minum.

Akhirnya diadakan kontak untuk mengadakan genjatan senjata semacam penghentian  perang antara kedua belah pihak selama 24 jam. Dalam waktu itu tentara islam, termasuk Rosulullah saw sendiri mengambil waktu istirahat. Mereka tidur-tiduran dibawah pohon kurma, naungan tembok-tembok dan batu-batu.

Tetapi tentara musrikin mempergunakan waktu genjatan senjata  itu untuk tipu daya perang. Dimalam hari yg gelap, Da’tsuur mengirim beberapa prajuritnya untuk mengintai kelengahan tentara islam, untuk menewaskan Rosulullah saw.

Disaat seluruh pasukan islam tidur nyenyak, Da’tsuur merayap mendapatkan Rosulullah saw yang sedang tidur tersandar di pohon kurma. Tetapi ketika dia berada di depan Rosulullah saw yg sedang tidur bersandar, dia cabut mata pedangnya, dan diacungkannya keleher Rosulullah saw

Mungkin karena ingin bermegah dan bersombong diri, Rosulullah saw dibangunkannya, lalu berkata kepada Rosulullah, “Hai Muhammad, siapa yang dapat mempertahankan nyawamu dari pedangku sekarang ini”. Rosulullah saw dengan segala ketenangan lalu menjawab, “ALLAH yang mempertahankan nyawaku dari mata pedangmu itu”

Mendengar jawaban yang tak dikira-kirakan itu, Da’tsuur kagum sekagum kagumnya, sampai gemetar sekujur badannya, hilang seluruh tenaganya, sehingga pedang yang diacungkan ke leher Rosulullah saw itu jatuh ke tanah.

Dengan segera Rosulullah saw bangkit mengambil pedang terhunus itu, lalu mengacungkannya ke pundak Da’tsuur dengan berkata, “Hai Da’tsuur, siapa gerangan yang dapat menyelamatkan nyawamu dari mata pedang yang ada ditanganku ini?”

Dengan badan gemetar dan ketakutan, Da’tsuur menjawab, “Tidak ada yg dapat mempertahankan nyawaku dari pedang itu”. Melihat musuhnya gemetar ketakutan dan tak berdaya itu, timbul rasa kasihan dan santun beliau, lalu berkata kepada Da’tsuur, “Hai Da’tsuur, ketahuilah bahwa ALLAH juga dapat mempertahankan nyawamu dari mata pedang yg ditanganku ini”

Rosulullah saw dengan tidak ragu-ragu, lalu menyerahkan pedang itu kepada Da’tsuur kembali, dengan alasan bahwa saat itu masih berlaku perjanjian genjatan senjata. Dengan perasaan lega terharu, Da’tsuur mengambil pedangnya dari tangan Rosulullah, lalu kembali ke pasukannya dengan perasaan yang lain dari waktu ia berangkat mendapatkan Rosulullah. Dia pergi dengan perasaan dendam, marah, benci, dan ingin membunuh Rosulullah saw. Dan sekarang dia kembali dg perasaan terharu, kasih, cinta, terpesona dg gerak-gerik dan ucapan-ucapan yg keluar dari mulut Rosulullah saw itu.

Setelah bertemu dan berada ditengah-tengah pasukannya, Da’tsuur berkata kepada mereka, “Aku kembali dari pertemuan dengan sebaik-baik manusia”. Lalu menceritakan akan peristiwa yg terjadi antara dia dan Rosulullah saw.

Mendengar kisah kejadian itu, seluruh pasukan Da’tsuur menjadi terharu, berubah pandangannya terhadap Rosulullah dan kaum muslimin. Akhirnya, serentak Da’tsuur dan pasukannya itu menyatakan diri menjadi pengikut Rosulullah saw dan masuk menganut agama islam.

Hanya dengan tindakan kebijaksanaan yg penuh dg rasa maaf dan lemah lembut, musuh-musuh yg paling benci, berubah dg sekejap mata menjadi teman-teman seperti saudara kandung. (Mengenal Tuhan, 2006)

*Janganlah kamu berdakwah dengan menggunakan cara kekerasan, paksaan, umpatan, Intimidasi, hinaan dll karena akan membuat mereka semakin benci pada islam. Tapi berdakwahlah dengan menggunakan akhlak yang baik, mereka yang membenci dan memusuhimu tiba-tiba akan segera berubah menjadi sahabat baikmu

Firman ALLAH SWT :
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.  (Fushshilat 34)

ROSULULLAH SAW BERDAKWAH DENGAN AKHLAK



Pada suatu hari Rosulullah saw keluar bersama sahabat-sahabat beliau, diantaranya Ali bin Abi Thalib ra. Tiba-tiba dating menemui beliau seorang badui dengan berkendaraan, lalu berkata, “Ya Rosulullah, dikampung itu ada sekelompok manusia yg sudah masuk islam dg mengatakan bahwa jika masuk islam mereka akan mendapat rahmat dan rejeki dari ALLAH. Tetapi sesudah mereka semua masuk islam, terjadilah musim kering dan panas yang bersangatan, sehingga mereka ditimpa bahaya kelaparan. Saya kawatir ya Rosulullah, jika mereka kembali kufur meninggalkan agama islam karena soal perut itu, karena mereka masuk kedalam agama islam adalah karena soal perut juga. Saya ingin agar kepada mereka engkau kirimkan bantuan untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa mereka itu”.

Mendengar keterangan itu, Rosulullah saw lalu menghadapkan muka beliau kepada Ali bin Abi Thalib ra. Ali bin Abi Thalib mengerti maksud pandangan itu, “Ya Rosulullah, tidak ada lagi bahan makanan pada kita”

Zaid bin Sa’nah (seorang yahudi bangsa israil) yang turut mendengarkan laporan seorang badui dan jawaban Ali bin Abi Thalib ini lalu mendekatkan diri kepada Rosulullah, dan berkata, “Ya Muhammad, kalau engkau suka, akan saya belikan korma yang baik dari kebun dikampung itu, lalu korma itu dapat engkau beli kepadaku dengan hutang, dg perjanjian begini, begitu….” . Berkata Rosulullah, “Jangan dibeli dg hutang kepada orang kampong itu, tetapi engkau belilah kurma itu, lalu kami pinjam kepada engkau”. Zaid bin Sa’nah menjawab, “Baiklah”

Zaid lalu membayar korma itu dg emas sebesar 70 mitsqal, lalu menyerahkannya kepada Rosulullah saw dg perjanjian-perjanjian tertentu dan akan dibayar kembali dalam batas waktu yang tertentu pula.

Rosulullah saw lalu memerintahkan untuk membagi-bagikan kurma tersebut kepada penduduk kampung yg kelaparan itu.

Berkata Zaid bin Sa’nah, “2 atau 3 hari sebelum datangnya waktu pengembalian seperti yg ditetapkan dalam perjanjian itu, Rosulullah saw keluar bepergian bersama Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra dan beberapa orang sahabat lainnya”
“Setelah selesai mensholatkan satu jenazah, Rosulullah saw lalu mendekati satu dinding untuk duduk, lalu saya datangi dia, lalu saya pegang erat-erat seluruh gamis dan selendangnya, dan berkata kepadanya dengan sekasar-kasarnya, “Hai Muhammad, bayar hutangmu kepadaku, demi ALLAH aku tahu bahwa seluruh keluarga Abdul Muthalib (kakek Rosulullah) itu selalu mengundur-undur waktu untuk membayar hutang”

“mendengar kata-kataku yg kasar itu, saya lihat wajah Umar bin Khattab ra merah padam kemarahan, kedua biji matanya bergerak-gerak dimukanya seperti sebuah sampan yg bundar dan oleng, lalu melemparkan pandangan kedua biji matanya itu kepadaku, dan berkata, “Hai Musuh ALLAH, engkau berkata begitu kasar terhadap Rosulullah dan berbuat begitu tak senonoh. Demi ALLAH, kalau tidak karena kehormatan Rosulullah yang berada disini, sungguh aku potong lehermu dengan pedangku ini”

“Rosulullah saw memandang kepadaku tetap dalam keadaan tenang dan biasa saja, lalu beliau berkata kepada Umar, “Hai Umar, antara saya dan dia ada urusan utang-piutang, yg kami perlukan, ialah agar engkau menyuruh aku untuk membayar utang itu sebaik-baiknya, dan menganjurkan kepadanya untuk berlaku baik menagih piutangnya. Hai Umar, pergilah bersama dia (ke tempat penyimpanan kurma), bayarlah utang itu kepadanya dantambahkan 20 shaa sebagai hadiah untuk menghoilangkan amarahnya”

Setelah Rosulullah membayar utang itu dengan tambahan tersebut, aku berkata kepada Umar, “kenapa ditambah hai Umar?”. Berkata Umar, “Diperintahkan Rosulullah saw tambahkan ini sebagai imbangan kemarahan engkau”
Aku berkata kepada Umar, “Hai Umar kenalkah engkau siapakah saya?”
Berkata Umar, “Tidak, saya tidak kenal engkau”
Aku lalu berkata kepada Umar, “Aku adalah Zaid bin Sa’nah”
Berkata Umar, “Engkau ini pendeta Zaid bin Sa’nah?”
“Ya” jawabku kepadanya.
Berkata Umar, “Kenapa engkau berlaku demikian rupa terhadap Rosulullah? Engkau berkata begitu kasar, dan berlaku begitu menghina?”

Zaid bin Sa’nah menjawab, “Hai Umar, segala tanda-tanda kenabian yang aku dapati dalam kitab suci Taurat sudah aku temui pada diri Rosulullah itu selain 2 perkara yg aku sembunyikan dan tak aku sampaikan kepada Rosulullah. Yaitu bahwa perasaan santunnya selalu mengalahkan perasaan marahnya, makin marah orang kepadanya, makin bertambah santun (rasa kasih sayangnya) terhadap orang yg marah itu. Dengan kejadian itu hai Umar, yg saya sengaja membikin-bikinnya, aku sudah tau dan lihat sendiri kedua sifat itu terdapat pada diri Muhammad itu. Aku bersumpah didepanmu hai Umar, aku sungguh-sungguh sudah suka dan ridha dengan ALLAH sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad saw sebagai Nabi dan ikutanku. Ketahuilah hai Umar, saya adalah orang terkaya ditengah-tengah bangsa yahudi. Saya akan serahkan seperdua dari seluruh harta bendaku untuk umat Muhammad saw”

Berkata Umar, “Tentu yg kau maksud untuk sebagian umat Muhammad saw”. Aku menjawab, “Ya untuk sebagian umat Muhammad saw”

Umar dan Zaid lalu kembali mendapatkan Rosulullah saw. Tepat setelah berhadapan dengan Rosulullah saw, dia lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba ALLAH, dan Rosul-NYA”. (At-Thabrany)

*Janganlah kamu berdakwah dengan menggunakan cara kekerasan, paksaan, umpatan, Intimidasi, hinaan dll karena akan membuat mereka semakin benci pada islam. Tapi berdakwahlah dengan menggunakan akhlak yang baik,mereka yang membenci dan memusuhimu tiba-tiba akan segera berubah menjadi sahabat baikmu

Firman ALLAH SWT :
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fushshilat 34)

ALLAH AKBAR, INJIL KUNO KABARKAN KEDATANGAN ROSULULLAH SAW



Senin, 27 Pebruari 2012 15:01 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan di Turki. Kabarnya, Gereja Vatikan telah meminta secara resmi kepada pemerintah Turki untuk melihat Injil yang tersimpan selama 12 tahun di negara tersebut.

Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugul Gunay mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus.

"Disebutkan injil ini, Yesus berkata kepada salah seorang pendeta, bagaimana kami memanggil mesias? Muhammad adalah nama yang diberkati," kata dia membacakan salah satu ayat dalam Injil seperti dikutip alarabiya.net, Senin (27/2).

Gunay menuturkan dalam injil ini juga disebutkan Yesus sendiri menyangkal menjadi Mesias. Yesus mengatakan bahwa Mesias itu adalah keturunan Ismail yakni orang Arab.

Sebelumnya, Umat Islam sendiri mengklai pesan kedatangan Muhammad SAW juga terdapat dalam injil Barnabas, Markus, Matius, Lukas dan Yohannas.

Gunay mengatakan pihak Vatikan telah meminta salinan injil tersebut saat Injil tersebut hendak diselundupkan ke luar Turki pada tahun 2000. Kini, Injil tersebut berada dalam brankas pengadilan Ankara. Nantinya, Injil tersebut akan diserahkan kepada Museum Etnografi Ankara.

Meski demikian, kalangan Gereja skeptis dengan keaslian Injil tersebut. Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.

"Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas," kata dia.

Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. "Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas," ujarnya.

Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

Senin, 27 Pebruari 2012 15:23 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline, injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

DUNIA DIJAUHKAN DARI PARA SHALIHIN

DUNIA DIJAUHKAN DARI PARA SHALIHIN
Dunia tertahan (dijauhkan) dari mereka (para shalihin), ALLAH SWT menghendaki waktu mereka tercurah untuk mencari-NYA dan datang kepada-NYA. Kalau saja ALLAH SWT memberikan dunia kepada mereka, bisa jadi mereka terlena didalamnya sehingga mengurangi waktu ibadah mereka kepada-NYA. itulah yang banyak terjadi pada manusia.

Rosulullah saw termasuk orang yang dilayani oleh dunia, akan tetapi tidak lengah dan tidak terlena didalamnya. Beliau tidak menolehnya, melainkan zuhud dan berpaling darinya. Bahkan Beliau menolaknya dangan memanjatkan doa, "Ya ALLAH, hidupkanlah aku dalam kemiskinan, matikan aku sebagai orang miskin, dan himpunlah aku bersama dengan orang-orang miskin". (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
 
SYARAT MENCINTAI ALLAH DAN ROSUL-NYA

Rosulullah saw bersabda, "Kefakiran (kemiskinan) lebih cepat datang kepada orang yang mencintaiku, daripada mengalirnya air ke tempat berhentinya".
Jadi syarat mencintai Rosulullah saw adalah sanggup menerima kefakiran dan syarat mencintai ALLAH SWT adalah sanggup menerima bencana dan ujian (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
 
WANITA BAROKAH

Rosulullah saw bersabda, “Seorang wanita yg penuh barokah dan mendapat anugerah Allah adalah yg maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yg celaka adalah yg mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya” (Kado Pernikahan Untuk Istriku, 2001)
 
YANG DIHARAMKAN SAAT HAID

Beberapa hal yg haram dikerjakan karena haid dan nifas : shalat, puasa, baca Al-Quran (boleh dzikir dan berdoa), menyentuh Al-Quran, masuk masjid, thawaf, bersetubuh, talak (perceraian), berwudhu. (Fiqih Imam Syafi'i, 2010)
 
MENGADU KEPADA MAKHLUK TIDAK ADA GUNANYA

Wahai orang yg mengadukan musibahnya kepada makhluk. Apa manfaat pengaduanmu itu, karena mereka tidak akan dapat mendatangkan manfaat sebagaimana mereka juga tidak dapat menimpakan madarat kepadamu. Apabila engkau bergantung kepada makhluk dan menyekutukan al-Haq didepan pintu-NYA, maka mereka akan menjauhkanmu dan menjerumuskanmu ke dalam murka-NYA (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Vicente Mota Alfaro: Dari Mualaf Sampai Menjadi Imam Masjid



IslamIsLogic.wordpress.com. Vicente Mota Alfaro menjadi mualaf pertama di Spanyol yang memegang posisi imam di masjid Islamic Cultural Center of Valencia (CCIV) dan memimpin salat berjamaah di masjid itu. Selain imam masjid, Alfaro juga menjadi anggota Dewan Direkur CCIV sejak tahun 2005.

Posisi imam masjid mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Alfaro, karena tiga belas tahun yang lalu ia adalah penganut agama Katolik yang taat, rajin membaca alkitab setiap hari dan tidak pernah absen menghadiri misa mingguan di gerejanya.

Ketika ditanya tentang perubahan hatinya dan perjalanannya dari seorang penganut Katolik yang taat menjadi seorang Muslim, Alfaro memberikan jawaban sederhana,”Ini semua adalah kehendak Allah, Islam menjadi pilihan saya dan menjadi hidup saya.”
Alfaro memutuskan masuk Islam pada saat ia berusia 20 tahun dan masih menjadi siswa sekolah menengah. “Saya membaca kitab suci al-Quran. Saya menemukan kebenaran tentang kisah Yesus Kristus dan kemudian saya masuk Islam,” Alfaro menceritakan perjalanannya menemukan cahaya Islam.

Pada dasarnya, Alfaro memang dikenal religius. Sejak masa kanak-kanak, Alfaro sudah rajin ke gereja setiap minggu dan membaca alkitab dengan teratur. “Saya melakukannya, sementara anak-anak lain pada saat itu tidak punya minat pada agama. Ketika itu, saya tentu saja belum tahu tentang Islam,” ujarnya.

Alfaro mengenal Islam dari tetangganya, seorang Muslim asal Aljazair yang sering ia ajak berbincang-bincang. “Suatu saat kami sedang ngobrol dan dia bilang bahwa semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa dan kita semua adalah anak-anak dari Nabi Ibrahim,” kenang Alfaro tentang tetangganya.

“Kala itu, saya tercengang mendengar Muslim dan orang-orang Arab tahu tentang Adam, Hawa dan Ibrahim,” sambung Alfaro.

Perbincangan itu memotivasi Alfaro untuk menggali lebih jauh tentang Islam. Ia jadi sering berkunjung ke perpustakaan dan meminjam terjemahan al-Quran. Terjemahan al-Quran itu ia baca dengan seksama di rumah.

“Saya sudah sering membaca di Gospel bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan Tuhan mengirim anaknya ke bumi untuk dibunuh dan disiksa guna membebaskan dosa-dosa manusia. Saya selalu bermasalah dengan hal itu, terutama untuk bisa mempercayai cerita itu,” kata Alfaro.

Dan jawaban yang ia cari, ditemukannya dalam al-Quran. “Saya pelajari dari al-Quran bahwa Yesus tidak dibunuh atau disalib,” ujar Alfaro.

Kisah Yesus dalam kitab suci al-Quran menyentuh hati Alfaro yang sejak mengucap dua kalimat syahadat mengubah namanya menjadi Mansour. “Saya langsung meyakini bahwa al-Quran adalah kitab suci yang benar yang berasal dari Tuhan. Dan saya langsung memutuskan ingin menjadi seorang Muslim,” tukas Alfaro.

Begitulah perjalanan Alfaro atau Mansour menemukan kebenaran dalam Islam. Sampai akhirnya para pemuka komunitas Muslim di kota Valencia sepakat memilihnya menjadi imam masjid Valencia. Alfaro dipilih karena dianggap memiliki kemampuan dan memenuhi syarat-syarat untuk menjadi imam masjid.

“Dia dipilih karena pengetahuannya yang luas tentang agama,” kata El-Taher Edda, sekretaris jenderal Islamic League for Dialogue and Coexistence.

Edda juga menegaskan bahwa penunjukkan Alfaro sebagai imam masjid Valencia merupakan pesan yang jelas tentang integrasi para mualaf ke dalam masyarakat Muslim.

Jumlah mualaf di Spanyol terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Menurut laporan media massa lokal, warga Spanyol yang masuk Islam bahkan dari kalangan intelektual, akademisi dan aktivis anti-globalisasi.

Saat ini, jumlah warga Muslim di Spanyol dipekirakan sekitar 1,5 juta jiwa dari 40 juta total penduduk negara itu. Di Spanyol, berdasarkan undang-undang kebebasan beragama tahun 1967, Islam diakui sebagai agama resmi dan menjadi agama kedua terbesar setelah agama Kristen.

DISUKAI DAN DIBENCI IBLIS

DISUKAI DAN DIBENCI IBLIS

Diriwayatkan dari Nabi Isa as bahwa dia berkata kepada Iblis, "Manusia seperti apa yang paling engkau sukai?". Iblis menjawab, "Seorang mukmin yang bakhil (kikir)". Nabi Isa as bertanya lagi, "Lalu manusia seperti apa yang paling engkau benci?". Iblis menjawab, "Seorang fasik yang dermawan". Nabi Isa as berkata, "Mengapa demikian?". Iblis menjawab, "Sungguh aku berharap orang mukmin itu akan tergelincir dalam kedurhakaan dengan kebakhilannya (kekikirannya), dan aku takut kalau orang fasik tadi akan terhapus keburukannya karena kedermawanan yang ia miliki". (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
ORANG BERILMU YANG MASUK NERAKA

Kelak di hari kiamat, seseorang akan dihadapkan dan dilemparkan ke neraka. Maka berserakanlah isi perutnya keluar, lalu ia diputar-putar dengan itu seperti keledai memutari kilangan. Kemudian penduduk neraka menghampirinya dan bertanya, “Wahai fulan, apa dosamu? Bukankah engkau suka beramar makruf nahi mungkar?” Ia menjawab, “Ya aku memang menyuruh yang makruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku melarang yang mungkar, tetapi aku sendiri melanggarnya” (HR Muslim)
KESALAHAN-KESALAHANMU AKAN MENIMPAMU KEMBALI DALAM BENTUK MUSIBAH

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syuura 30)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan ALLAH memaafkan sebagian besar kesalahan itu” (HR Tirmidzi)
PERBAIKILAH NIATMU ATAU AMALMU AKAN SIA-SIA

Rosulullah saw bersabda, “Orang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat adalah orang yg mati syahid. Ia dihadapkan ke pengadilan, lalu diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh, dan dia mengakuinya. Lalu ALLAH bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?”. Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-MU hingga aku mati syahid”. ALLAH berkata, “Engkau berdusta. Sesungguhnya engkau berperang supaya disebut pemberani, dan sebutan itu telah engkau peroleh”. Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka.

Selanjutnya, dihadapkan orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca AL-Quran. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh, dan dia mengakuinya. Lalu ALLAH bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?”. Ia menjawab, “Aku belajar, menhajar, dan membaca AL-Quran karena Engkau.” ALLAH berkata, “Engkau berdusta. Sesungguhnya engkau belajar supaya disebut sebagai orang alim, dan engkau membaca AL-Quran supaya disebut sebagai qari’ (ahli baca), dan sebutan itu telah kau peroleh.” Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka.

Sesudah itu, dihadapkan pula orang yang diberi kekayaan oleh ALLAH dengan berbagai macam harta. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh, dan dia mengakuinya. Lalu ALLAH bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?”. Ia menjawab, “Aku tak melewatkan satu jalan pun yang Engkau sukai seseorang menginfakkan harta di dalamnya kecuali aku melakukannya karena Engkau”. ALLAH berkata, “Engkau berdusta. Sesungguhnya engkau melakukan itu supaya disebut pemurah, dan sebutan itu telah engkau dapatkan”. Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka. (HR Muslim)
SUAMI ISTRI YG MENCARI RIDHO ALLAH

Allah merahmati seorg suami yg bangun di malam hari lalu dia shalat dan membangunkan istrinya,jika sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya dan Allah merahmati seorg istri yg bangun di malam hari lalu ia shalat dan membangunkan suaminya jika suaminya enggan, ia percikkan air pd wajahnya (HR abu Daud)
Jangan Membongkar Aib Saudara Muslim

Rosulullah saw bersabda, “Janganlah kamu menyakiti kaum muslim. Janganlah kamu mempermalukan mereka. Janganlah kamu mengintip-ngintip (mencari-cari) aib mereka. Barangsiapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya orang islam, ALLAH akan membongkar aibnya. Barangsiapa yg dibongkar aib nya oleh ALLAH, ALLAH akan mempermalukannya, bahkan ditengah keluarganya” (Kado Pernikahan Untuk Istriku, 2001)
 

Kamis, 23 Februari 2012

MUALLAF : Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam

Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, ‘’Apa tujuan hidup di dunia ini?’’

Pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hati Abdul Raheem Green itu telah mengantarkannya pada sebuah pencarian spiritual. Bagi sebagian orang, manusia hidup untuk menjadi kaya. Namun, Green tahu itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.

‘’Benarkah menjadi kaya akan membuat seorang bahagia?’’ tanyanya dalam hati.

Ternyata kekayaan tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang kaya di dunia ini, tapi mereka tak merasakan kebahagiaan. Tak mudah bagi Green untuk menemukan jawaban tentang tujuan hidup di dunia ini.

Ia mencari jawaban atas pertanyaannya melalui jalur spiritual. Ia sempat berganti-ganti agama untuk mendapatkan jawabannya. Namun, beberapa agama yang sempat disinggahinya tak mampu memberikan jawaban. Di akhir pencariaannya, ia berkenalan dengan Islam.

Hati Green pun terpikat kepada Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu mampu memberinya jawaban atas pertanyaan yang selalu mengusik kehidupannya. Lantas bagaimanakah Islam menjawab pertanyaan seorang pria bernama Green?

Green terlahir dalam sebuah keluarga yang menganut Katholik Roma. Keluarganya sangat patuh terhadap ajaran agama. Ayahnya seorang tentara dan ibunya adalah seorang polisi di salah satu kota di Inggris.

Kedua orangtuanya bersepakat untuk membesarkan buah hatinya dengan agama nilai-nilai agama. Mereka memasukkan Green ke sekolah asrama Katholik. Sekolah asrama itu cukup terkenal di Inggris. Green pun cukup senang belajar di sekolah tersebut.

Selain menimba pelajaran umum, Green dan murid-murid lainnya harus mengikuti pelajaran, agama seperti membaca Alkitab dan sejarah-sejarah Kristen. Awalnya, tidak ada masalah yang berarti bagi Green ketika belajar di sekolah asrama Katholik itu. Semua mulai berubah, ketika ia berpikir tentang Tuhannya, Yesus.

Green berpendapat sosok Tuhan tidak mungkin bisa mati. Ia juga berpikir bagaimana mungkin seorang Tuhan memiliki seorang ibu. “Kalau Tuhan memiliki ibu, maka ibunya adalah Tuhan dari Tuhan,” pikirnya. Hal ini mengganjal terus hingga ia dewasa.

Ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Lalu, Green berusaha mencari tahu mengapa Tuhan memiliki seorang ibu. Akan tetapi, ia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Orang-orang yang ia tanya tidak dapat menjawabnya.

Mereka hanya meminta Green untuk mempercayai dan mendengarkan apa yang diajarkan padanya. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Green tidak mau menyerah. ‘’Apabila orang lain tidak dapat menjawabnya, maka aku akan mencari sendiri jawabannya,’’ ujar Green.



Ketika usianya semakin beranjak dewasa, pertanyaan lain muncul dalam hidupnya. ‘’Apakah yang menjadi tujuan dalam hidup ini? Apakah hidup itu hanya seperti memiliki pekerjaan bagus, hidup yang normal dan indah serta uang yang banyak? Apakah kehidupan itu seperti itu? Lalu bagaimana dengan kematian?’’

Ia amat yakin sekali bahwa kehidupan yang dijalaninya tak semata untuk mengumpulkan uang, memiliki keluarga, dan menjalani kehidupan monoton sepertu yang banyak dilakukan orang sekarang. Green meyakini ada sesuatu yang lebih dari itu.

Karena tidak menemukan jawabannya dalam Katolik yang dianutnya sejak lahir, Green mencoba mencarinya dalam agama Buddha. Ia mencari tentang kehidupan di agama Shidarta Gautama itu.

Green mempelajari banyak hal dalam Buddha. Meskipun banyak orang menganggap Buddha bukanlah sebuah agama, ia menemukan banyak nilai-nilai positif di dalamnya. Akan tetapi ia tidak menemukan adanya Tuhan dalam agama tersebut. “Meski begitu, saya tetap mempercayai adanya Tuhan, karena saya tahu Dia ada,” kata Green.

Buddha mengajarkan bahwa hidup itu adalah penderitaan. Manusia harus mencari jalan keluar sendiri untuk melepaskan diri dari penderitaan dan mencapai nirwana. Green merasa hal ini tidaklah sesuai dengan hatinya. Memang, ia menemukan banyak ajaran-ajaran baik dalam Buddha.

Tapi kalau hidup yang penuh penderitaan? Green harus berpikir ulang. Ajaran Buddha tidak lagi membuat perasaannya tenang dan Green tidak menemukan jawaban dari pertanyaan fundamentalnya: ‘’Mengapa manusia ada di bumi?’’

Tak puas dengan apa yang ia dapatkan di ajaran agama lain, Green sempat memutuskan untuk membuat agamanya sendiri. Ia mengombinasikan agama-agama dan filosofi yang ia pelajari selama ini menjadi satu dan membuatnya menjadi ‘agama Green’.

“Dan masa-masa itu menjadi pengalaman spiritual terburuk dalam hidup saya,” kenangnya.

Karena tidak menemukan kebenaran juga, Green mulai berpikir mungkin memang tidak ada agama yang benar di dunia ini. Mungkin semuanya memang seperti ini adanya dan ia harus menerima itu. Barangkali di dunia ini tidak ada jawaban yang dapat membuatnya paham mengenai apa yang harus manusia lakukan di dunia dan apa tujuan manusia dilahirkan.



 Sempat ia hampir menerima kenyataan bahwa tujuan dalam hidup ini hanyalah mencari uang dan menumpuk kekayaan. Masalahnya, Green bukanlah kaya dan dia belum cukup kaya untuk mencapai ‘tujuan hidup’ yang ia maksud. Ia harus banyak belajar dari orang-orang yang bisa menghasilkan banyak uang.

Ia mengetahui orang Arab sangatlah kaya karena minyak yang dihasilkannya. “Mereka tinggal mengatakan Allahuakbar, lalu uang muncul di depan mereka. Semudah itu,” kata dia.

Terpikir pula olehnya agama yang dianut orang-orang Arab, yakni Islam. Agama ini belum pernah disentuh Green sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya Green mempelajari terlebih dahulu agama yang berasal dari Timur Tengah ini, sebelum ia memutuskan untuk menjadi kaya.

Green membeli sebuah terjemahan Alquran di toko buku dan membacanya. Green membacanya berkali-kali dan menemukan ada yang tidak biasa dalam buku tersebut. Green merasa buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang. Dari situ Green mulai mempelajari tentang Islam.

Perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjawab semua pertanyaannya. Islam memberinya pedoman dalam kehidupan dan memberikan cahaya pada setiap jalan yang ia tempuh.

Islam juga menjawab pertanyaan Green mengenai Tuhan. Tuhan adalah satu dan ia tidak memiliki ibu juga tidak mati. Tuhan adalah pencipta seluruh alam dan melalui para nabi Tuhan menyampaikan apa yang perlu manusia lakukan di dunia dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.

“Saya menyadari buku ini berasal dari Tuhan. Dia telah memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama ini.” Ia juga menemukan jawaban atas tujuan hidup di dunia ini, yakni untuk beribadah dan menyembang Sang Khalik, demi mendapat kehidupan yang abadi di Hari Akhir.

Kini, Green berkhidmat dalam Islam. Ia mempelajari Islam dan menyebarkannya. Dakwah adalah jalan hidupnya.

JANGAN BERSELARAS DENGAN WATAK BURUK

SUFINEWS.COM. Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany 17 Ramadhan, tahun 545, H. di Madrasahnya

Allah Azza wa-Jalla telah memilih kefakiran bagimu. Tetapi engkau memilih kaya. Ingatlah Allah Azza wa-Jalla memberikan pilihan padamu tetapi anda tidak suka. Sesungguhnya yang tidak menyukai pilihan Allah Azza wa-Jalla adalah nafsumu, hawa nafsumu, watakmu, syetanmu dan sahabat-sahabat burukmu, semua itu tidak pernah menyukai pilihan Allah Azza wa-Jalla.

Karena itu anda jangan berselaras dengan mereka (nafsu, watak, syetan dan sahabat buruk), jangan berpaling kepada mereka, jangan pula mengikuti jejak kontra mereka dan kebencian mereka kepada Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Dengarkan apa yang diperintahkan oleh sirr maupun qalbu, karena keduanya selalu memerintahkan kebajikan dan mencegah keburukan.

Relalah dengan rasa fakir anda, karena kerelaan itu menunjukkan rasa cukupmu kepada Allah Azza wa-Jalla yang nyata, merasa cukup dengan perlindunganNya, yang anda tidak akan mampu, karena ketika Dia membuat kemampuan padamu engkau pasti menang. Jika tidak akan muncul kehancuran padamu melalui maksiat kepadaNya. Bila Dia memfakirkan dan melemahkan dirimu, engkau pasti menang. Karena jika tidak, pasti jelas, bahwa Dia melindungimu dari maksiat-maksiat padaNya.

Bila anda sabar pada pilihanNya, anda mendapatkan pahala yang tidak terbilang, siapa pun di muka bumi tak bisa menghitungnya termasuk anda. Hanya saja anda ini tergesa-gesa. Orang yang tergesa-gesa tidak akan meraih apa-apa. Siapa yang berhasrat pada serba tergesa-gesa ia bersama syetan dan jauh dari Ar-Rahmaan. Bila anda tergesa-gesa, anda termasuk pasukan syetan dan bersama syetan. Tetapi pila anda kokoh, beradab dan sabar, anda adalah pasukan Allah Yang Maha Pengasih dan bersamaNya.

Hakikat taqwa itu menjalankan apa yang diperintah Allah Azza wa-Jalla dan meninggalkan perintah untuk meninggalkannya, sabar atas tindakanNya, bagian-bagian takdirNya dan semua bencanaNya dan cobaanNya.

Padahal anda secara total adalah makhluk, nafsu, sirna tiada, dan watak. Tak ada kebajikan di mata Allah Azza wa-Jalla maupun di mata kaum ‘arifin bagi anda. Anda sungguh tergolong gila jika dibanding orang yang berakal sehat. Bila kegilaannya penuh dan gila menyimpang dari Allah Azza wa-Jalla, ia justru akan hancur sulit untuk keluar dari gilanya. Gerak adalah awal mula, dan diam adalah akhirnya, hilanglah sakit dan hikmah menyertainya.

Anak-anak sekalian, sebaliknya anda ini malah kosong dari akhirat dan dipenuhi dunia, kondisimu penuh dengan kepentinganmu dan jauh dari kepentingan orang-orang saleh dan para wali. Anda pun berpisah dengan majlis orang-orang saleh, malah anda merasa cukup dengan pandanganmu sendiri. Padahal siapa yang hanya merasa cukup dengan pandangannya sendiri bisa sesat. Tak satu pun orang alim kecuali ingin bertambah ilmunya, dan tak ada satu pun orang alim kecuali orang lain lebih pandai dari dirinya. Allah azza wa-Jalla berfirman: “Dan kalian tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit sekali.” (Q.S. Al-Isra’:85)
  Kalian harus berpegang teguh pada Jumhur Ulama’ dan mayoritas besar dengan serius. Anda harus mengikuti mereka dan jangan berpisah dengan mereka, karena itulah obatnya thariqah.

Nabi Saw, bersabda: “Ikutlah jejak dan jangan membuat bid’ah, maka kalian akan dicukupi.”

Inilah thariqah. Jangan melakukan penempuhan atau suluk dengan kesertaan hawa nafsu. Namun harus dengan aturan dan amal, meninggalkan upaya dan kekuatan diri, meninggalkan sikap keras kepala, dan berpasrah total, melemparkan diri, meninggalkan sikap tergesa-gesa, dan lebih hati-hati. Hal ini tidak bisa tiba hanya dengan sikap ketergesaanmu, membutuhkan ikatan dan tokoh-tokoh pembimbing, kesabaran, pertolongan, dan mujahadah.

Hendaknya dalam penempuhan itu anda berguru pada sebagian penguasa ma’rifat agar me-ma’rifat-kan anda, dan membebaskan beban hidup anda. Anda berjalan di kendaraannya, dan jika anda lelah dan letih, maka ia memerintahkan agar beban-bebanmu di lepas di belakangnya. Bila anda tergolong pecinta, anda akan dinaikkan di belakangnya. Namun bila anda disayang, ia akan menaikkan dirimu pada kendaraannya dalam pencerahan lampunya, dan ia naik di belakangmu. Siapa yang merasakan ini, ia akan mengenalnya.

Duduk dengan kalangan yang ahli sangat nikmat, tetapi duduk dengan kalangan pendusta yang penuh tipudaya dan munafik sungguh menyiksa. Engkau harus tetap waspada kepada Allah Azza wa-Jalla, dan menuntut dirimu memenuhi kewajiban Allah Azza wa-Jalla, dan memenuhi hak-hak makhluk.

Bila anda ingin meraih kebajikan dunia dan akhirat, maka waspadailah Pengetahuan Allah Azza wa-Jalla dalam dirimu, dan tuntutlah dirimu untuk melaksanakan amaliah, mengikuti perintah Allah Azza wa-Jalla dan mencegahnya dari tumpukan dosa maksiat padaNya. Hendaknya anda disiplin dengan kesabaran ketika bencana tiba, dan ridho terhadap ketentuan dan takdir, serta bersyukur ketika nikmat tiba. Bila anda melakukan ini semua, segala hambatan akan sirna, dan keteguhan bersanding dengan Allah Azza wa-Jalla akan berlangsung, anda mendapatkan Sahabat di jalan, dan Penolong, disamping anda akan menemukan kekayaan ruhani yang menyertai anda di mana pun anda menghadap.

Jangan peduli dimana anda, dimana anda bertempat. Karena setiap anda gugur, anda menemukan hikmah, ilmu, ketentuan, manusia, jin, malaikat yang membantu anda. Semuanya takut padamu karena takutmu kepada Allah Azza wa-Jalla, dan semuanya memberimu karena kepatuhanmu kepada Allah Azza wa-Jalla. Siapa yang takut kepada Allah Azza wa-Jalla, segalanya akan takut padanya. Siapa yang tidak takut kepada Allah Azza wa-Jalla, segalanya jadi ancaman baginya. Siapa yang berbakti kepada Allah A zza wa-Jalla, segalanya berbakti kepadanya. Karena Dia tidak pernah menelantarkan amal hambaNya sedikit pun. Sebagaimana Sabda Nabi Saw.:

“Sebagaimana anda berbuat maka anda akaln dibalas.”
“Sebagaimana keadaan kalian, maka kalian akan diberi limpahan kemampuan.”

Ya Allah, berilah amal pada kami melalui kemuliaanMu dan kebajikanMu serta ampunanMu dan kasih sayangMu pada kami di dunia dan akhirat. Dan berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.”