Diriwayatkan bahwa iblis melihat Musa as dan berkata, “Musa, aku akan mengajarimu tiga perkara dan engkau mohonkan kepada ALLAH SWT satu keperluan untukku”
Musa bertanya, “Apakah ke tiga perkara itu?”
Iblis menjawab, “Musa, waspadalah engkau dari rasa marah, sesungguhnya kemarahan adalah seringan-ringannya kepala, dan aku akan mempermainkan sebagaimana anak-anak kecil memainkan bola. Waspadalah engkau terhadap sifat kikir, sesungguhnya aku akan menghancurkan orang kikir, baik dunianya maupun agamanya. Waspadalah terhadap wanita, sesungguhnya aku tidak pernah mengambil sekutu yang begitu aku percayai dari kalangan makhluk kecuali wanita” (Al-Ghazali)
Minggu, 13 Maret 2011
Jangan berikan amal kebaikanmu kepada orang lain
Diceritakan tentang al-Husain bin Ali ra bahwa telah sampai kepadanya perkataan seseorang yang membuat dia tidak suka, maka dia mengambil sekeranjang penuh kurma yang baru dipetik dan membawanya ke rumah orang itu. Dia ketuk pintu rumah orang itu. Orang itu berdiri, membuka pintu, dan memandang Husain yang membawa keranjang. Orang itu bertanya, “Apa itu wahai cucu Rosulullah?”
Husain menjawab, “Ambillah sekeranjang kurma ini. Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan amal kebaikanmu kepadaku, maka aku membalasnya dengan ini” (Al-Ghazali)
Husain menjawab, “Ambillah sekeranjang kurma ini. Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan amal kebaikanmu kepadaku, maka aku membalasnya dengan ini” (Al-Ghazali)
Sorang istri yang dimarahi suaminya itu terlaknat
Seorang wanita mengadu kepada ayahnya sambil menangis, "Wahai ayahku, semalam aku sempat bersitegang dengan suamiku. Ia marah karena merasa tersinggung oleh salah satu ucapanku. Menyadari akan kemarahannya, aku pun menyesali apa yg telah aku perbuat, lalu aku meminta maaf kepadanya. Namun, dia tetap belum mau berbicara denganku dan terus memalingkan wajahnya dariku. Maka, aku terus berupaya merayunya dengan kemanjaan dan kelembutanku hingga ia tertawa ceria dan kembali menerimaku. Aku Takut Tuhanku mengambil nyawaku pada saat-saat diriku berada dalam kemarahan suamiku".
Sang ayah pun berkata, "Wahai putriku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-NYA, jika engkau meninggal dunia sebelum ia meridhaimu, maka aku pun tidak akan ridha kepadamu. Bukankah engkau mengetahui bahwa seorang perempuan yang dimarahi suaminya itu terlaknat sebagaimana dikatakan dalam Taurat, Injil, Zabur dan AL-Quran. Bahkan, bukankah kemarahan suami itu bisa mempersulit sakratul mautnya dan mempersempit kuburannya. Maka beruntunglah seorang wanita yang suaminya selalu tenteram dan rela kepadanya". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Sang ayah pun berkata, "Wahai putriku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-NYA, jika engkau meninggal dunia sebelum ia meridhaimu, maka aku pun tidak akan ridha kepadamu. Bukankah engkau mengetahui bahwa seorang perempuan yang dimarahi suaminya itu terlaknat sebagaimana dikatakan dalam Taurat, Injil, Zabur dan AL-Quran. Bahkan, bukankah kemarahan suami itu bisa mempersulit sakratul mautnya dan mempersempit kuburannya. Maka beruntunglah seorang wanita yang suaminya selalu tenteram dan rela kepadanya". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Selasa, 01 Maret 2011
Jangan Risau Akan Rejeki
Sesungguhnya ALLAH lah yang mencukupimu kemarin, dan DIA pula yang akan mencukupimu kebutuhan esok hari (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Kesabaran Fatimah az-Zahra binti Rosulullah
Fatimah az-Zahra binti Rosulullah pernah mengalami kelaparan selama beberapa hari. Saat itu, suaminya Ali ra melihat wajahnya pucat pasi. Maka ia bertanya kepadanya, "Kenapa engkau pucat demikian, wahai Fatimah?"
Fatimah menjawab, "Sejak tiga hari yang lalu kami tidak mempunyai makanan di rumah!". Ali berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku?". Ia menjawab, "Sebab, pada malam pernikahan kita dahulu, Rosulullah saw pernah berpesan kepadaku seperti ini : "Wahai Fatimah, Jika Ali ra datang kepadamu dengan membawa sesuatu, makanlah! Namun, bila ia tidak membawa apa-apa, janganlah sekali-kali menanyakannya" (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Fatimah menjawab, "Sejak tiga hari yang lalu kami tidak mempunyai makanan di rumah!". Ali berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku?". Ia menjawab, "Sebab, pada malam pernikahan kita dahulu, Rosulullah saw pernah berpesan kepadaku seperti ini : "Wahai Fatimah, Jika Ali ra datang kepadamu dengan membawa sesuatu, makanlah! Namun, bila ia tidak membawa apa-apa, janganlah sekali-kali menanyakannya" (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Meratapi Kegagalan = Kufur Atas Keputusan ALLAH
Sesungguhnya meratapi kegagalan masa lalu, menangisi penderitaan dan mengumpat kekalahan itu, dalam pandangan islam merupakan salah satu bentuk kekufuran kepada ALLAH dan ketidakrelaan atas ketentuan dan ketetapan-NYA (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Kebahagiaan hanya ada di surga
Adalah salah besar, bila engkau berpikir bahwa hidup ini harus memberimu kebaikan seratus persen. Itu hanya akan terwujud di surga nanti. Di dunia ini, segala sesuatu bersifat nisbi, tidak semua yang engkau inginkan dapat menjadi kenyataan. Bahkan apa yang disebut dengan musibah, ujian, dan cobaan itu pasti akan datang menerpa kepada siapa saja dan dimana saja.
Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib, semua ini mustahil terjadi.
Maka bersyukurlah engkau tatkala mendapat kesenangan, dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. (Menjadi Waniota Paling Bahagia, 2007)
Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib, semua ini mustahil terjadi.
Maka bersyukurlah engkau tatkala mendapat kesenangan, dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. (Menjadi Waniota Paling Bahagia, 2007)
Dengan istighfar rejeki akan mengalir
Seorang wanita berkisah :
"Suamiku meninggal dunia saat aku berumur tiga puluh tahun. Waktu itu, aku telah dikaruniai lima orang anak. Tak ayal, dunia pun terasa gelap gulita di mataku, dari hari ke kari aku hanya bisa menangis seraya meratapi nasibku hingga kering air mataku. Aku semakin putus asa dan hari-hariku terus diliputi oleh kesedihan, kegundahan, dan kecemasan. Apalagi, bila aku mengingat kelima anak-anakku yang masih kecil-kecil, sedang diriku sama sekali tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk hidup mereka. Akhirnya, aku pun menjual sedikit demi sedikit harta peninggalan suamiku yang tak seberapa.
Syahdan, suatu hari aku menyendiri di kamar sambil mendengarkan siaran Al-Quran dan ceramah dari sebuah radio transistor. Lalu, terdengar olehku seorang syaikh menuturkan, "Barangsiapa memperbanyak istigfar, maka ALLAH akan mengusir segala kesedihan yang menghantuinya dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang menghimpitnya".
Sejak mendengar ceramah itu, aku terus memperbanyak istigfar. Demikian juga dengan anak-anakku, aku perintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tidak disangka, enam bulan kemudian sebuah proyek besar membutuhkan sebagian tanah kami dan siapo memberi ganti rugi berjuta-juta.
Bersamaan dengan itu, ankku yang pertama berhasil menjadi pelajar tauladan di kota kami. Bahkan, ia sudah hafal al-Quran dengan sempurna dan sering mendapat undangan pengajian di masyarakatku. Singkat cerita, sejak itu rumah kami serasa dipenuhi dengan anugerah, hidup kami lebih nyaman dan sejahtera dan ALLAH menjadikan putera-puteriku sebagai orang-orang yang sukses dan sholeh. Demikianlah kesedihan, kecemasan, kerisauan, dan kegelisahan pun sirna dariku. Dan akhirnya, aku pun menjadi wanita paling bahagia". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
"Suamiku meninggal dunia saat aku berumur tiga puluh tahun. Waktu itu, aku telah dikaruniai lima orang anak. Tak ayal, dunia pun terasa gelap gulita di mataku, dari hari ke kari aku hanya bisa menangis seraya meratapi nasibku hingga kering air mataku. Aku semakin putus asa dan hari-hariku terus diliputi oleh kesedihan, kegundahan, dan kecemasan. Apalagi, bila aku mengingat kelima anak-anakku yang masih kecil-kecil, sedang diriku sama sekali tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk hidup mereka. Akhirnya, aku pun menjual sedikit demi sedikit harta peninggalan suamiku yang tak seberapa.
Syahdan, suatu hari aku menyendiri di kamar sambil mendengarkan siaran Al-Quran dan ceramah dari sebuah radio transistor. Lalu, terdengar olehku seorang syaikh menuturkan, "Barangsiapa memperbanyak istigfar, maka ALLAH akan mengusir segala kesedihan yang menghantuinya dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang menghimpitnya".
Sejak mendengar ceramah itu, aku terus memperbanyak istigfar. Demikian juga dengan anak-anakku, aku perintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tidak disangka, enam bulan kemudian sebuah proyek besar membutuhkan sebagian tanah kami dan siapo memberi ganti rugi berjuta-juta.
Bersamaan dengan itu, ankku yang pertama berhasil menjadi pelajar tauladan di kota kami. Bahkan, ia sudah hafal al-Quran dengan sempurna dan sering mendapat undangan pengajian di masyarakatku. Singkat cerita, sejak itu rumah kami serasa dipenuhi dengan anugerah, hidup kami lebih nyaman dan sejahtera dan ALLAH menjadikan putera-puteriku sebagai orang-orang yang sukses dan sholeh. Demikianlah kesedihan, kecemasan, kerisauan, dan kegelisahan pun sirna dariku. Dan akhirnya, aku pun menjadi wanita paling bahagia". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Banyak yg lebih menderita dari dirimu
Perhatikan dan renungkan apa yg terjadi disekitarmu. Bukankah dirumah-rumah sakit masih terdapat sekian ranjang putih yang diatasnya terbaring ribuan manusia yang menderita penyakit kroonis dan cacat selama bertahun-tahun? Bukankah dipenjara masih terdapat ribuan manusia yg hidup dibalik jeruji besi dengan nista dan kehilangan nikmatnya kehidupan di alam bebas ini? Bukankah di berbagai rumah sakit jiwa masih terdapat banyak manusia yg kehilangan akal sehatnya, lenyap kesadarannya dan kemudian menjadi gila? Bukankah disekitarmu masih banyak fakir miskin yang tinggal di gubuk-gubuk kardus dan kesulitan hanya untuk mendapatkan sepotong roti saja? Bukankah diluar sana masih ada sekian banyak wanita yang harus kehilangan anak-anaknya karena sebuah musibah yang mendera? Bukankah disekitarmu juga masih ada sekian seorang cacat, tuna netra, tuna wicara, tuna rungu, dan kehilangan sebagian anggota badannya, seperti kaki, tangan, dan lain sebagainya? Bahkan diantara mereka juga ada yg kehilangan akal sehatnya, atau terkena penyakit kanker yang ganas dan mematikan itu?
Lalu lihatlah dirimu, engkau masih dalam keadaan sehat sejahtera, aman, tenteram, dan damai. Oleh karena itu bersyukurlah kepada ALLAH atas segala nikmatnya-NYA. (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Lalu lihatlah dirimu, engkau masih dalam keadaan sehat sejahtera, aman, tenteram, dan damai. Oleh karena itu bersyukurlah kepada ALLAH atas segala nikmatnya-NYA. (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Kamis, 24 Februari 2011
Azab Pada Orang Kafir/Dzalim Pasti Datang
Azab Pada Orang Kafir/Dzalim Pasti Datang, Jadi Janganlah Meminta Disegerakan.
Dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya (Al 'Ankabuut 53)
Dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka (Al Ahqaaf 35)
Dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya (Al 'Ankabuut 53)
Dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka (Al Ahqaaf 35)
Langganan:
Postingan (Atom)