Nafi meriwayatkan, “Aku bepergian bersama Abdullah bin Umar ra. Tiba-tiba dia mendengar seruling gembala dan langsung menutup telinganya dengan jemari, kemudian menyingkir dari jalan. Tidak henti-hentinya dia bertanya, “Nafi, apakah kamu mendengar (suara seruling itu)?”. Aku menjawab, “Tidak”. Lalu dia melepas jemarinya dari telinga, kemudian keluar menuju jalan tersebut sambil berkata, “Demikianlah aku melihat Rosulullah saw melakukannya” (HR Abu Dawud)
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 Agustus 2011
Besarnya Pahala Taat Kepada Suami
Nabi Muhammad saw bersabda, “Taat pada suami dan menjalankan perintah suami dapat menyamai pahala jihad fisabilillah, namun banyak dari kaum wanita yang tidak mau taat kepada suaminya” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jumat, 08 Juli 2011
Orang yg Hidup Boros Tamannya Setan
Orang yg Hidup Boros Neraka Tempatnya
Sesungguhnya orang yang boros adalah teman-teman setan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(Al Israa' 27)
Sesungguhnya orang yang boros adalah teman-teman setan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(Al Israa' 27)
Senin, 06 Juni 2011
Jangan membuka aib orang lain
Ada seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khattab, “Di masa jahiliah aku mempunyai seorang putrid yg dulunya pernah aku kubur hidup-hidup sewaktu ia masih kecil. Tetapi sebelum ia meninggal aku sempat mengeluarkan kembali dan ketika kami masuk Islam maka ia pun ikut masuk islam bersamaku. Kemudian ia berzina sehingga ia terkena hokum ALLAH. Maka aku ambilkan sebuah pisau agar ia menyembelih dirinya sendiri. Ketika ia telah melukai dirinya, maka aku kasihan kepadanya sehingga aku selamatkan ia. Kemudian ia segera bertobat dengan tobat yang sesungguhnya. Ketika ia dipinang oleh seorang lelaki, maka aku kabarkan segala yang pernah dialaminya.
Jawab Umar, “Mengapa engkau sengaja memberitahukan kepada orang lain tentang rahasia-rahasia yang telah ditutupi oleh ALLAH. Andaikata engkau beritakan kepada salah seorang pun tentang pengalaman pahitnya yang dialaminya tadi, pasti akan aku cambuk engkau di depan umum agar dijadikan pelajaran bagi orang lain. Sebaiknya segera engkau nikahkan ia dengan orang yang baik sebab ia adalah seorang wanita yang baik”.
Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa menutupi keburukan seorang muslim, maka ia seperti seorang yang telah menyelamatkan jiwa seorang anak kecil yang dikubur hidup-hidup oleh ayahnya” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jawab Umar, “Mengapa engkau sengaja memberitahukan kepada orang lain tentang rahasia-rahasia yang telah ditutupi oleh ALLAH. Andaikata engkau beritakan kepada salah seorang pun tentang pengalaman pahitnya yang dialaminya tadi, pasti akan aku cambuk engkau di depan umum agar dijadikan pelajaran bagi orang lain. Sebaiknya segera engkau nikahkan ia dengan orang yang baik sebab ia adalah seorang wanita yang baik”.
Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa menutupi keburukan seorang muslim, maka ia seperti seorang yang telah menyelamatkan jiwa seorang anak kecil yang dikubur hidup-hidup oleh ayahnya” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Menutupi aib seorang muslim
Abil Hatsam bercerita, “Aku pernah berkata kepada Uqbah bin Amir bahwa ada tetanggaku yang suka minum-minuman keras. Dan aku ingin melaporkan kejadian ini kepada polisi agar polisi menangkap mereka”. Kata Uqbag, “Jangan engkau melakukan hal itu. Sebaiknya berilah nasehat yang baik kepada mereka agar mereka bertobat”. Kataku, “Aku telah sering memberi nasehat kepada mereka tapi tidak mau menyadarinya sehingga ingin aku laporkan keadaan mereka kepada polisi”. Jawab Uqbah, “Jangan kau lakukan hal itu, sebab aku mendengar Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa menutupi keburukan seorang muslim, maka ia seperti seorang yang telah menyelamatkan jiwa seorang anak kecil yang dikubur hidup-hidup oleh ayahnya” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Menggunjing = memakan daging manusia
Pada suatu hari Nabi saw memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berpuasa sehari. Kata Nabi saw, “Berpuasalah kalian dan jangan seorang pun dari kalian yang membatalkan puasanya kecuali dengan izinku”. Semua orang berpuasa sampai menjelang sore hari, tiba-tiba datanglah seorang seraya berkata, “Wahai Rosulullah saw, ada dua orang wanita yang sedang berpuasa sesungguhnya orang itu tidak kuat berpuasa maka dari itu izinkanlah kedua orang itu untuk berbuka”. Rosulullah saw menjawab, “Sesungguhnya kedua wanita itu tidaklah berpuasa sebagaimana ia dikatakan berpuasa sedangkan seharian ini makan daging orang-orang (karena menggunjing). Katakana kepada keduanya, jika keduanya masih berpuasa hendaknya ia muntahkan isi perutnya”. Maka lelaki itu menyampaikan apa yg diperintah oleh Rosulullah saw kepada kedua wanita tersebut. Dan kedua wanita itu melakukan apa yg diperintahkan oleh Rosulullah saw dan akhirnya keduanya memuntahkan segumpal daging dari mulutnya masing-masing. Ketika berita itu disampaikan kepada Rosulluah saw, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya telah merasani (menggunjing) orang banyak sehingga keduanya makan daging mereka, demi Dzat yang memegang jiwaku, andaikata daging mereka masih tetap di perut kedua wanita itu, maka keduanya akan dimasukkan ke dalam api neraka” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Menggunjing adalah Kedzaliman yg Besar
Pernah Aisyah merasani (menggunjing) Sofiah binti Huyai dihadapan Nabi saw, maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh perbuatanmu ini jika dicampurkan dengan air laut, maka air laut akan terkotori oleh buruknya perbuatanmu” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jangan Terpesona pada Sesuatu
Aisyah ra berkata, “Pada suatu hari aku memandangi baju baruku yang membuat aku terpesona. Kata Abu Bakar ra, “Mengapa engkau memandangi baju barumu sedemikian rupa. Ketahuilah bahwa ALLAH tidak akan memandangmu dengan pandangan rahmat”. Tanya Aisyah, “Mengapa demikian” Jawab Abu Bakar, “Ketahuilah bahwa jika seorang telah terpesona kepada suatu kesenangan duniawi, maka ALLAH akan membencinya sampai ia meninggalkannya”. Kata Aisyah, “Aku segera mencopot pakaian itu dan aku sedekahkan”. Kata Abu Bakar, “Semoga sedekahmu itu menjadi penyebab dihapuskannya dosamu”. (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jangan Mempersulit Seorang Muslim
Ada seorang laki-laki yang menyembunyikan kedua sandal temannya dan ia hanya ingin bercanda. Ketika berita itu dilaporkan kepada Rosulullah saw maka beliau bersabda, “Janganlah mengecewakan seorang mukmin sebab hal itu merupakan kedzaliman yang besar” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Senin, 23 Mei 2011
Lihatlah Orang yg di Bawahmu
Rosulullah saw bersabda, "Jangan kamu melihat orang yang berada di atas kamu, tetapi lihatlah orang yang berada di bawah kamu" (HR Bukhari)
Akhlak Fatimah binti Rosulullah saw ra
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abu Thaliob ra pulang kerumah lebih awal menjelang sholat Ashar. Fatimah binti Muhammad saw menyambut dengan suka cita seraya berharap suaminya tercinta membawa uang hasil jerih payahnya hari itu untuk membeli keperluan di dapur.
“Salam kakanda”, sapa manis Fatimah ra dengan raut yang penuh ketulusan. “Sepertinya kanda lelah sekali”, lanjut Fatimah.
Belum sempat meneruskan perkataannya, Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maaf sayangku, aku tidak mendapatkan uang sepeserpun”. Dengan wajah manis dan senyum Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa kanda. Bukankah rejeki itu sudah diatur dan bukan kita yang mengaturnya”.
Sungguh ucapan yg sangat indah terdengar dan menenteramkan hati Ali bin Abu Thalib ra, menunjukkan betapa tingginya ketakwaan wanita mulia ini. Betapa tinggi ketawakalan Fatimah ra padahal di dapurnya tidak ada lagi bahan mentah untuk dimasak.
Tidak lama kemudian, Ali bin Abu Thalib ra menuju ke masjid untuk sholat berjamaah dan ketika ia hendak pulang dari masjid di perjalanan ia bertemu dengan orang tua. Orang tersebut bertanya, “Hai anak muda, apakah benar kamu itu Ali bin Abu Thalib?”. Dengan penuh keheranan Ali ra pun menjawab, “Ya, saya Ali bin Abu Thalib, bagaimana engkau tahu namaku, duhai orang tua?”. Orang itu pun menjawab, “Dahulu, ayahmu pernah kusuruh bekerja membersihkan kulit binatang untukku dan aku belum membayar upahnya. Sekarang aku membayarnya kepadamu selaku ahli warisnya”. Sambil meraba saku, orang tersebut mengeluarkan uang sebanyak 30 dinar. Dengan raut senang Ali bin Abu Thalib ra pun mengambil uang 30 dinar yang merupakan hak nya itu. Lalu dengan raut yang gembira ia pulang ke rumah dan memberitahukan kepada istrinya. “Subhanallah, ini rejeki yg tiada terduga”, kata Fatimah ra mendengar penuturan suaminya itu. “Lekaslah kaubelikan bahan makanan semua uang itu di pasar kanda”, lanjutnya.
Ali bin Abu Thalib ra pun pergi ke pasar, namun di depan pasar ia mendapati orang fakir menengadahkan tangan dan berkata, “Barang siapa yang ingin bersedekah di jalan ALLAH maka bersedekahlah kepada musafir yang kehabisan bekal ini”.
Tanpa piker panjang, Ali ra pun memberikan semua uangnya itu kepada orang tersebut kemudian ia pun pulang dengan wajah murung kembali, tetapi bukan menyesali uang yang ia sedekahkan, tetapi karena mengingat istrinya. “Salam ‘alaik, ya Fatimah”, sapanya kepada istrinya itu. Fatimah kebingungan mendapati suaminya tidak membawa barang belanjaan sama sekali. Kemudian diceritakanlah kepada Fatimah ra tentang apa yang telah dilakukannya. Kembali dengan senyuman Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa duhai suamiku. Bila aku mendapati yang demikian pastilah akan kulakukan yang sama dengan engkau duhai suamiku. Bersedekah itu lebih baik daripada bakhil (kikir)”. Mendengar ucapan itu hati Ali ra pun lega dan berkata dalam hatinya, “tidak salah aku memiihmu, sungguh mulia akhlakmu Fatimah”. (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
“Salam kakanda”, sapa manis Fatimah ra dengan raut yang penuh ketulusan. “Sepertinya kanda lelah sekali”, lanjut Fatimah.
Belum sempat meneruskan perkataannya, Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maaf sayangku, aku tidak mendapatkan uang sepeserpun”. Dengan wajah manis dan senyum Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa kanda. Bukankah rejeki itu sudah diatur dan bukan kita yang mengaturnya”.
Sungguh ucapan yg sangat indah terdengar dan menenteramkan hati Ali bin Abu Thalib ra, menunjukkan betapa tingginya ketakwaan wanita mulia ini. Betapa tinggi ketawakalan Fatimah ra padahal di dapurnya tidak ada lagi bahan mentah untuk dimasak.
Tidak lama kemudian, Ali bin Abu Thalib ra menuju ke masjid untuk sholat berjamaah dan ketika ia hendak pulang dari masjid di perjalanan ia bertemu dengan orang tua. Orang tersebut bertanya, “Hai anak muda, apakah benar kamu itu Ali bin Abu Thalib?”. Dengan penuh keheranan Ali ra pun menjawab, “Ya, saya Ali bin Abu Thalib, bagaimana engkau tahu namaku, duhai orang tua?”. Orang itu pun menjawab, “Dahulu, ayahmu pernah kusuruh bekerja membersihkan kulit binatang untukku dan aku belum membayar upahnya. Sekarang aku membayarnya kepadamu selaku ahli warisnya”. Sambil meraba saku, orang tersebut mengeluarkan uang sebanyak 30 dinar. Dengan raut senang Ali bin Abu Thalib ra pun mengambil uang 30 dinar yang merupakan hak nya itu. Lalu dengan raut yang gembira ia pulang ke rumah dan memberitahukan kepada istrinya. “Subhanallah, ini rejeki yg tiada terduga”, kata Fatimah ra mendengar penuturan suaminya itu. “Lekaslah kaubelikan bahan makanan semua uang itu di pasar kanda”, lanjutnya.
Ali bin Abu Thalib ra pun pergi ke pasar, namun di depan pasar ia mendapati orang fakir menengadahkan tangan dan berkata, “Barang siapa yang ingin bersedekah di jalan ALLAH maka bersedekahlah kepada musafir yang kehabisan bekal ini”.
Tanpa piker panjang, Ali ra pun memberikan semua uangnya itu kepada orang tersebut kemudian ia pun pulang dengan wajah murung kembali, tetapi bukan menyesali uang yang ia sedekahkan, tetapi karena mengingat istrinya. “Salam ‘alaik, ya Fatimah”, sapanya kepada istrinya itu. Fatimah kebingungan mendapati suaminya tidak membawa barang belanjaan sama sekali. Kemudian diceritakanlah kepada Fatimah ra tentang apa yang telah dilakukannya. Kembali dengan senyuman Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa duhai suamiku. Bila aku mendapati yang demikian pastilah akan kulakukan yang sama dengan engkau duhai suamiku. Bersedekah itu lebih baik daripada bakhil (kikir)”. Mendengar ucapan itu hati Ali ra pun lega dan berkata dalam hatinya, “tidak salah aku memiihmu, sungguh mulia akhlakmu Fatimah”. (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
Minggu, 13 Maret 2011
Jangan berikan amal kebaikanmu kepada orang lain
Diceritakan tentang al-Husain bin Ali ra bahwa telah sampai kepadanya perkataan seseorang yang membuat dia tidak suka, maka dia mengambil sekeranjang penuh kurma yang baru dipetik dan membawanya ke rumah orang itu. Dia ketuk pintu rumah orang itu. Orang itu berdiri, membuka pintu, dan memandang Husain yang membawa keranjang. Orang itu bertanya, “Apa itu wahai cucu Rosulullah?”
Husain menjawab, “Ambillah sekeranjang kurma ini. Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan amal kebaikanmu kepadaku, maka aku membalasnya dengan ini” (Al-Ghazali)
Husain menjawab, “Ambillah sekeranjang kurma ini. Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan amal kebaikanmu kepadaku, maka aku membalasnya dengan ini” (Al-Ghazali)
Sorang istri yang dimarahi suaminya itu terlaknat
Seorang wanita mengadu kepada ayahnya sambil menangis, "Wahai ayahku, semalam aku sempat bersitegang dengan suamiku. Ia marah karena merasa tersinggung oleh salah satu ucapanku. Menyadari akan kemarahannya, aku pun menyesali apa yg telah aku perbuat, lalu aku meminta maaf kepadanya. Namun, dia tetap belum mau berbicara denganku dan terus memalingkan wajahnya dariku. Maka, aku terus berupaya merayunya dengan kemanjaan dan kelembutanku hingga ia tertawa ceria dan kembali menerimaku. Aku Takut Tuhanku mengambil nyawaku pada saat-saat diriku berada dalam kemarahan suamiku".
Sang ayah pun berkata, "Wahai putriku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-NYA, jika engkau meninggal dunia sebelum ia meridhaimu, maka aku pun tidak akan ridha kepadamu. Bukankah engkau mengetahui bahwa seorang perempuan yang dimarahi suaminya itu terlaknat sebagaimana dikatakan dalam Taurat, Injil, Zabur dan AL-Quran. Bahkan, bukankah kemarahan suami itu bisa mempersulit sakratul mautnya dan mempersempit kuburannya. Maka beruntunglah seorang wanita yang suaminya selalu tenteram dan rela kepadanya". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Sang ayah pun berkata, "Wahai putriku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-NYA, jika engkau meninggal dunia sebelum ia meridhaimu, maka aku pun tidak akan ridha kepadamu. Bukankah engkau mengetahui bahwa seorang perempuan yang dimarahi suaminya itu terlaknat sebagaimana dikatakan dalam Taurat, Injil, Zabur dan AL-Quran. Bahkan, bukankah kemarahan suami itu bisa mempersulit sakratul mautnya dan mempersempit kuburannya. Maka beruntunglah seorang wanita yang suaminya selalu tenteram dan rela kepadanya". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
Selasa, 15 Februari 2011
Berlatih untuk diam
Siapa saja yang berniat menjaga lidahnya dari perbuatan menggunjing dan mencampuri urusan orang lain, hendaknya ia memaksa lidahnya agar senantiasa diam, kecuali untuk berdzikir kepada ALLAH, atau mengucapkan sesuatu yang perlu dalam agama. Sedemikian itu, sampai syahwatnya untuk berbicara menjadi mati sama sekali, dan ia tidak akan mengucapkan apa pun selain sesuatu yg haq (Al-Ghazali)
Belajar Untuk Diam Dan Hindari Bicara Hal YG TDK Bermanfaat
Rosulullah saw bersabda, "Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau hendaklah ia diam" (HR Bukhari Muslim)
Keutamaan akhlak yang baik
Anas bin malik berkata, "Seorang hamba -dengan akhlaknya yang baik- dapat mencapai derajat tertinggi di surga, sedangkan ia bukanlah seorang ahli ibadah. Dan -dengan akhlaknya yang buruk- dapoat terhempas ke dasar paling bawah neraka Jahanam, sedangkan ia seorang ahli ibadah". (Al-Ghazali)
Akhlak buruk jalan menuju neraka
Ada seseorang berkata kepada Rosulullah saw, "Ada seorang perempuan yang berpuasa di siang hari dan bertahajud di malam hari, sementara akhlaknya buruk. Ia mengganggu para tetangganya dengan ucapan lidahnya".
Maka Rosulullah saw bersabda, "Tak sedikit pun kebaikan ada padanya. Ia adalah penghuni neraka". (Al-Ghazali)
Maka Rosulullah saw bersabda, "Tak sedikit pun kebaikan ada padanya. Ia adalah penghuni neraka". (Al-Ghazali)
Senin, 07 Februari 2011
Menjaga lisan dari kata-kta kotor
Sebenarnya yg paling sering dilakukan oleh orang yg berbicara kotor dan keji adalah doisaat bertengkat dan berdebat, pada saat itulah setan berusaha keras agar diantara keduanya tidak mau mengalah dan selalu ingin menang. Dan kalau sudah terjadi begini keduanya terjatuh pada akhlak yang hina. Sebagaimana sabda Nabi saw :
"Orang laki-laki yang paling dibenci ALLAH, ialah orang yang paling buruk pertengkarannya" (HR Bukhari Muslim)
Yang dimaksudkan dengan buruk pertengkarannya adalah ucapan-ucapan kotor yang dilontarkan pada waktu bertengkar, menyindir, menghina, mengejek dan lain-lain. (Pembersihan Jiwa, 2001)
"Orang laki-laki yang paling dibenci ALLAH, ialah orang yang paling buruk pertengkarannya" (HR Bukhari Muslim)
Yang dimaksudkan dengan buruk pertengkarannya adalah ucapan-ucapan kotor yang dilontarkan pada waktu bertengkar, menyindir, menghina, mengejek dan lain-lain. (Pembersihan Jiwa, 2001)
Berhati-hati dengan makanan haram
Abu Bakar as Shiddiq terkenal seorang yg wara' (berhati-hati). Beliau seorang yg sangat teliti mengenai soal pakaian dan makanan. Apabila dihidangkan makanan, beliau tidak begitu saja memakannya, tetapi diselidikinya terlebih dahulu apakah betul-betul halal?. Beliau suka berkata, "Darimana atau dari siapa, dan bagaimana didapatnya?". Dan setelah beliau yakin benar bahwa makanan itu halal, barulah dimakannya. Tetapi kalau tidak, atau beliau masih ragu-ragu, beliau tidak segan-segan minta maaf untuk tidak memakannya atau mengucapkan terimakasih dan menahan diri daripadanya.
Pada suatu hari datang seorang abid (ahli ibadah) dengan membawa dan menghidangkan makanan kehadapan beliau. Kebetulan sekali pada waktu itu beliau sedang dalam keadaan lapar, memang benar-benar tidak ada makanan di rumahnya.
Dengan pandangan seorang yg lapar melihat makanan yg tampaknya enak pula, beliau mulai makan, tanpa mengadakan tanya jawab atau menyelidiku dulu sebagaimana biasanya. Setelah beberapa suap, beliau teringat dan berhenti makan. Beliau terus memanggil abid yg membawa makanan tadi dan menanyakan sumber makanan tersebut. Ternyata menurut pandangan beliau makanan itu terdapat sedikit syubhat (samar-samar antara haram dan halal). Dengan segera beliau berlari keluar sambil memasukkan jari telunjuknya ke dalam kerongkongan untuk memuntahkan makanan itu kembali. Beliau usahakan dengan bantuan air hangat, sehingga bersih benar.
Ketika beliau memuntahkan dan membersihkan mulutnya, ada orang yg melihat dan bertanya, "Apakah tuan lakukan ini semua karena hanya satu suapan saja?". Beliau menjawab, "Demi ALLAH, jika makanan tadi tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan keluar juga. AKu telah mendengar Rosulullah saw bersabda :
"Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, api neraka lebih berhak baginya".
(Pembersihan Jiwa, 2001)
Pada suatu hari datang seorang abid (ahli ibadah) dengan membawa dan menghidangkan makanan kehadapan beliau. Kebetulan sekali pada waktu itu beliau sedang dalam keadaan lapar, memang benar-benar tidak ada makanan di rumahnya.
Dengan pandangan seorang yg lapar melihat makanan yg tampaknya enak pula, beliau mulai makan, tanpa mengadakan tanya jawab atau menyelidiku dulu sebagaimana biasanya. Setelah beberapa suap, beliau teringat dan berhenti makan. Beliau terus memanggil abid yg membawa makanan tadi dan menanyakan sumber makanan tersebut. Ternyata menurut pandangan beliau makanan itu terdapat sedikit syubhat (samar-samar antara haram dan halal). Dengan segera beliau berlari keluar sambil memasukkan jari telunjuknya ke dalam kerongkongan untuk memuntahkan makanan itu kembali. Beliau usahakan dengan bantuan air hangat, sehingga bersih benar.
Ketika beliau memuntahkan dan membersihkan mulutnya, ada orang yg melihat dan bertanya, "Apakah tuan lakukan ini semua karena hanya satu suapan saja?". Beliau menjawab, "Demi ALLAH, jika makanan tadi tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan keluar juga. AKu telah mendengar Rosulullah saw bersabda :
"Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, api neraka lebih berhak baginya".
(Pembersihan Jiwa, 2001)
Rabu, 26 Januari 2011
Seberapa besar rasa malumu kepada ALLAH
Ketika Nabi Adam as melanggar larangan ALLAH dengan memakan buah quldi di surge. Adam dan istrinya berlari kesana kemari seolah-olah beliau kebingungan, lantas ALLAH berfirman kepadanya, “Kemana engkau akan pergi, wahai Adam? Apakah engkau akan menjauh dari-KU?”
“Tidak, wahai Tuhanku. Aku melakukan ini karena aku malu kepada-MU setelah melanggar larangan-MU”, jawab Adam as.
Apakah perasaan seperti ini pernah anda rasakan? Apakah anda pernah sulit tidur karena malu kepada ALLAH setelah melakukan maksiat kepada-NYA? Atau anda lebih memilih cepat-cepat bersedekah dengan lima ribu atau sepuluh ribu karena rasa malu kepada ALLAH atas kemaksiatan yang anda lakukan? (Akhlak Mulia, 2008)
“Tidak, wahai Tuhanku. Aku melakukan ini karena aku malu kepada-MU setelah melanggar larangan-MU”, jawab Adam as.
Apakah perasaan seperti ini pernah anda rasakan? Apakah anda pernah sulit tidur karena malu kepada ALLAH setelah melakukan maksiat kepada-NYA? Atau anda lebih memilih cepat-cepat bersedekah dengan lima ribu atau sepuluh ribu karena rasa malu kepada ALLAH atas kemaksiatan yang anda lakukan? (Akhlak Mulia, 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)