Senin, 30 Mei 2011
Murung karena terlalu banyak harta
Sa’daa ra (istri Thalhah ra) berkata, “Pada suatu hari aku dapatkan Thalhah ra terlihat amat murung. Tanyaku, “Apa yg menyebabkan anda menjadi seorang pemurung, mungkin kamu terlalu memikirkan kami?”. Jawab Thalhah, “Tidak, akan tetapi aku mendapatkan uang terlalu banyak sehingga aku tidak tahu hendak aku kemanakan uang ini”. Kataku, “Mengapa kamu terlalu bingung dalam menghadapi hal itu, panggilkan kaummu kemudian bagikan kepada mereka harta yg menyebabkan kamu bingung”. Kata Thalhah ra, “Panggilkan seluruh kaumku untuk aku bagikan kepada mereka semua harta yang aku miliki”. Tanyaku pada si penjaga gudang, “Berapa jumlah harta yg dibagikan pada waktu itu”. Kata si penjaga gudang, “Jumlah harta yg dibagikan pada waktu itu ada empat ratus ribu dirham” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Senin, 23 Mei 2011
Infaq Abdurrahman bin Auf ra
Ketika Aisyah ra sedang berada di rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara ramai di Madinah, sehingga ia sempat bertanya, “Suara apa yg ramai itu?” Kata mereka, “Itu adalah suara kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf yg datang dari syam dengan membawa berbagai macam kebutuhan”. Dan dikatakan bahwa kafilah dagang tersebut sebanyak tujuh ratus ekor unta sehingga kota Madinah menjadi ramai oleh karenanya. Mendengar kejadian itu maka Aisyah ra berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah saw bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku bahwa Abdurrahman bin Auf dimasukkan ke dalam surga dengan merangkak”. Ketika ucapan tersebut terdengar oleh Abdurrahman, maka Abdurrahman ra berkata, “Aku ingin masuk surga dengan berjalan”. Kemudian ia menyerahkan seluruh unta lengkap dengan peralatannya tersebut untuk disedekahkan fisabilillah. (Kehidupan Para Sahabat Rosullullah saw, 2003)
Kebaikan akan dibalas 10x lipat
Pada suatu kali ada seorang pengemis yang minta sesuatu pada kepada Amir Mu’minin Ali ra, maka Ali ra berkata, “Al Hasan, pergilah kepada ibumu, katakana padanya tadi aku menyimpan enam dirham, maka berikan satu dirham kepadaku”. Ketika diberitahukan oleh al Hasan, maka kata ibunya, “Sesungguhnya uang enam dirham tersebut akan aku belikan tepung”. Mendengar hal itu maka Ali ra berkata, “Tidak sempurna iman seseorang kecuali jika ia lebih meyakini apa yg ada di tangannya sendiri”. Kemudian Ali ra berkata, “Mintalah semua uang itu dan berikan semua kepada pengemis”. ,aka Siti Fatimah ra segera memberikan uang enam dirham kepada pengemis.
Tidak lama dari kejadian itu maka ada seseorang yang dating kepada Ali ra sambil berkata, “Siapa yg mau membeli untaku ini?”. Tanya Ali ra, “Berapa harga untamu?”. Kata lelaki itu, “Aku jual unta ini 160 dirham”. Tanya Ali ra “Aku mau membelinya asal uangnya tidak kontan”. Setelah disepakati maka unta tersebut dioserahkan kepada Ali ra. Ketika unta tersebut diikat disebuah tiang, maka ada seorang lelaki yg bertanya, “Milik siapakah unta ini?”. Jawab Ali ra, “Unta ini adalah milikku”. Tanya lelaki itu , “Apakah akan kamu jual unta ini?”. Jawab Ali, “Ya”. Tanya lelaki itu, “Berapa harga unta itu?”. Jawab Ali, “Dua ratus dirham”. Kata lelaki itu, “Aku setuju dengan harga itu”. Kemudian Ali ra memberikan 140 dirham kepada si pemilik unta dan ia segera menyerahkan 60 dirham kepada istrinya. Tanya Siti Fatimah ra, “Uang apa ini?”. Jawab Ali ra, “Ini adalah yang telah dijanjikan oleh ALLAH kepada kami lewat lisan Nabi-NYA : ‘Barangsiapa yang berbuat suatu kebajikan maka baginya diberikan ganti sepuluh kali lipat” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Tidak lama dari kejadian itu maka ada seseorang yang dating kepada Ali ra sambil berkata, “Siapa yg mau membeli untaku ini?”. Tanya Ali ra, “Berapa harga untamu?”. Kata lelaki itu, “Aku jual unta ini 160 dirham”. Tanya Ali ra “Aku mau membelinya asal uangnya tidak kontan”. Setelah disepakati maka unta tersebut dioserahkan kepada Ali ra. Ketika unta tersebut diikat disebuah tiang, maka ada seorang lelaki yg bertanya, “Milik siapakah unta ini?”. Jawab Ali ra, “Unta ini adalah milikku”. Tanya lelaki itu , “Apakah akan kamu jual unta ini?”. Jawab Ali, “Ya”. Tanya lelaki itu, “Berapa harga unta itu?”. Jawab Ali, “Dua ratus dirham”. Kata lelaki itu, “Aku setuju dengan harga itu”. Kemudian Ali ra memberikan 140 dirham kepada si pemilik unta dan ia segera menyerahkan 60 dirham kepada istrinya. Tanya Siti Fatimah ra, “Uang apa ini?”. Jawab Ali ra, “Ini adalah yang telah dijanjikan oleh ALLAH kepada kami lewat lisan Nabi-NYA : ‘Barangsiapa yang berbuat suatu kebajikan maka baginya diberikan ganti sepuluh kali lipat” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Niat dalam Pernikahan
Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa yg menikahi seorang perempuan karena kemuliaannya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kehinaan. Barangsiapa menikah karena harta, maka ALLAH tidak akan menambah untuknya kecuali kefakiran. Barangsiapa menikah karena keturunan, ALLAH tidak akan menambah untuknya kecuali kerendahan. Barangsiapa menikah karena tidak menginginkan sesuatu, kecuali untuk menundukkan pandangan, menjaga diri dari perzinahan, atau semata mahabbah (rasa cinta) kepada ALLAH (melaksanakan perintah ALLAH dan sunnah Rosul), maka ALLAH pasti memberi keberkahan kepada keduanya” (HR Thabrani)
Lihatlah Orang yg di Bawahmu
Rosulullah saw bersabda, "Jangan kamu melihat orang yang berada di atas kamu, tetapi lihatlah orang yang berada di bawah kamu" (HR Bukhari)
Jangan hidup bermewah-mewah
Umar bin Khattab ra dan Yarfa’ ra berkunjung ke rumah Abu Darda di Syam ketika malam hari. Ketika mereka datang dan meminta izin masuk, ternyata ia segera mengizinkan masuk. Dan Umar segera mendorong pintu, ternyata pada pintu itu tidak ada kuncinya, dan didapatkan rumah itu gelap gulita tanpa lampu. Ketika Umar memeriksa isi rumah itu, ia dapatkan sebuah tikar yang lusuh dan bantal yang rapuh sedang pakaian yang dipakainya pun amat compang-camping. Kat a Abu Darda, “Siapakah yang dating kemari?”
Jawab Umar, “Aku Amirul Mukminin”. Kata Abu Darda, “Sungguh lebih setahun kami nanti-nantikan kedatanganmu”. Tanya Umar, “Bukankah telah aku cukupi segala kebutuhanmu?”. Jawab Abu Darda, “Benar, kamu telah mencukupi aku dengan baik, tapi tidakkah pernah kamu dengar Rosulullah saw bersabda, “Hendaknya hidup seseorang dari kamu ini hanyalah sekedar untuk perbekalan dalam perjalanan saja, tidak bermewah-mewah”. Kata Umar, “Ya, memang aku telah mendengarnya”. Kemudian keduanya menangis sampai tiba waktu pagi. (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jawab Umar, “Aku Amirul Mukminin”. Kata Abu Darda, “Sungguh lebih setahun kami nanti-nantikan kedatanganmu”. Tanya Umar, “Bukankah telah aku cukupi segala kebutuhanmu?”. Jawab Abu Darda, “Benar, kamu telah mencukupi aku dengan baik, tapi tidakkah pernah kamu dengar Rosulullah saw bersabda, “Hendaknya hidup seseorang dari kamu ini hanyalah sekedar untuk perbekalan dalam perjalanan saja, tidak bermewah-mewah”. Kata Umar, “Ya, memang aku telah mendengarnya”. Kemudian keduanya menangis sampai tiba waktu pagi. (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Akhlak Fatimah binti Rosulullah saw ra
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abu Thaliob ra pulang kerumah lebih awal menjelang sholat Ashar. Fatimah binti Muhammad saw menyambut dengan suka cita seraya berharap suaminya tercinta membawa uang hasil jerih payahnya hari itu untuk membeli keperluan di dapur.
“Salam kakanda”, sapa manis Fatimah ra dengan raut yang penuh ketulusan. “Sepertinya kanda lelah sekali”, lanjut Fatimah.
Belum sempat meneruskan perkataannya, Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maaf sayangku, aku tidak mendapatkan uang sepeserpun”. Dengan wajah manis dan senyum Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa kanda. Bukankah rejeki itu sudah diatur dan bukan kita yang mengaturnya”.
Sungguh ucapan yg sangat indah terdengar dan menenteramkan hati Ali bin Abu Thalib ra, menunjukkan betapa tingginya ketakwaan wanita mulia ini. Betapa tinggi ketawakalan Fatimah ra padahal di dapurnya tidak ada lagi bahan mentah untuk dimasak.
Tidak lama kemudian, Ali bin Abu Thalib ra menuju ke masjid untuk sholat berjamaah dan ketika ia hendak pulang dari masjid di perjalanan ia bertemu dengan orang tua. Orang tersebut bertanya, “Hai anak muda, apakah benar kamu itu Ali bin Abu Thalib?”. Dengan penuh keheranan Ali ra pun menjawab, “Ya, saya Ali bin Abu Thalib, bagaimana engkau tahu namaku, duhai orang tua?”. Orang itu pun menjawab, “Dahulu, ayahmu pernah kusuruh bekerja membersihkan kulit binatang untukku dan aku belum membayar upahnya. Sekarang aku membayarnya kepadamu selaku ahli warisnya”. Sambil meraba saku, orang tersebut mengeluarkan uang sebanyak 30 dinar. Dengan raut senang Ali bin Abu Thalib ra pun mengambil uang 30 dinar yang merupakan hak nya itu. Lalu dengan raut yang gembira ia pulang ke rumah dan memberitahukan kepada istrinya. “Subhanallah, ini rejeki yg tiada terduga”, kata Fatimah ra mendengar penuturan suaminya itu. “Lekaslah kaubelikan bahan makanan semua uang itu di pasar kanda”, lanjutnya.
Ali bin Abu Thalib ra pun pergi ke pasar, namun di depan pasar ia mendapati orang fakir menengadahkan tangan dan berkata, “Barang siapa yang ingin bersedekah di jalan ALLAH maka bersedekahlah kepada musafir yang kehabisan bekal ini”.
Tanpa piker panjang, Ali ra pun memberikan semua uangnya itu kepada orang tersebut kemudian ia pun pulang dengan wajah murung kembali, tetapi bukan menyesali uang yang ia sedekahkan, tetapi karena mengingat istrinya. “Salam ‘alaik, ya Fatimah”, sapanya kepada istrinya itu. Fatimah kebingungan mendapati suaminya tidak membawa barang belanjaan sama sekali. Kemudian diceritakanlah kepada Fatimah ra tentang apa yang telah dilakukannya. Kembali dengan senyuman Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa duhai suamiku. Bila aku mendapati yang demikian pastilah akan kulakukan yang sama dengan engkau duhai suamiku. Bersedekah itu lebih baik daripada bakhil (kikir)”. Mendengar ucapan itu hati Ali ra pun lega dan berkata dalam hatinya, “tidak salah aku memiihmu, sungguh mulia akhlakmu Fatimah”. (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
“Salam kakanda”, sapa manis Fatimah ra dengan raut yang penuh ketulusan. “Sepertinya kanda lelah sekali”, lanjut Fatimah.
Belum sempat meneruskan perkataannya, Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maaf sayangku, aku tidak mendapatkan uang sepeserpun”. Dengan wajah manis dan senyum Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa kanda. Bukankah rejeki itu sudah diatur dan bukan kita yang mengaturnya”.
Sungguh ucapan yg sangat indah terdengar dan menenteramkan hati Ali bin Abu Thalib ra, menunjukkan betapa tingginya ketakwaan wanita mulia ini. Betapa tinggi ketawakalan Fatimah ra padahal di dapurnya tidak ada lagi bahan mentah untuk dimasak.
Tidak lama kemudian, Ali bin Abu Thalib ra menuju ke masjid untuk sholat berjamaah dan ketika ia hendak pulang dari masjid di perjalanan ia bertemu dengan orang tua. Orang tersebut bertanya, “Hai anak muda, apakah benar kamu itu Ali bin Abu Thalib?”. Dengan penuh keheranan Ali ra pun menjawab, “Ya, saya Ali bin Abu Thalib, bagaimana engkau tahu namaku, duhai orang tua?”. Orang itu pun menjawab, “Dahulu, ayahmu pernah kusuruh bekerja membersihkan kulit binatang untukku dan aku belum membayar upahnya. Sekarang aku membayarnya kepadamu selaku ahli warisnya”. Sambil meraba saku, orang tersebut mengeluarkan uang sebanyak 30 dinar. Dengan raut senang Ali bin Abu Thalib ra pun mengambil uang 30 dinar yang merupakan hak nya itu. Lalu dengan raut yang gembira ia pulang ke rumah dan memberitahukan kepada istrinya. “Subhanallah, ini rejeki yg tiada terduga”, kata Fatimah ra mendengar penuturan suaminya itu. “Lekaslah kaubelikan bahan makanan semua uang itu di pasar kanda”, lanjutnya.
Ali bin Abu Thalib ra pun pergi ke pasar, namun di depan pasar ia mendapati orang fakir menengadahkan tangan dan berkata, “Barang siapa yang ingin bersedekah di jalan ALLAH maka bersedekahlah kepada musafir yang kehabisan bekal ini”.
Tanpa piker panjang, Ali ra pun memberikan semua uangnya itu kepada orang tersebut kemudian ia pun pulang dengan wajah murung kembali, tetapi bukan menyesali uang yang ia sedekahkan, tetapi karena mengingat istrinya. “Salam ‘alaik, ya Fatimah”, sapanya kepada istrinya itu. Fatimah kebingungan mendapati suaminya tidak membawa barang belanjaan sama sekali. Kemudian diceritakanlah kepada Fatimah ra tentang apa yang telah dilakukannya. Kembali dengan senyuman Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa duhai suamiku. Bila aku mendapati yang demikian pastilah akan kulakukan yang sama dengan engkau duhai suamiku. Bersedekah itu lebih baik daripada bakhil (kikir)”. Mendengar ucapan itu hati Ali ra pun lega dan berkata dalam hatinya, “tidak salah aku memiihmu, sungguh mulia akhlakmu Fatimah”. (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
Jangan Terlena dg Dunia
Rosulullah saw bersabda, "Hiduplah engkau didunia seperti orang yg asing, atau laksana orang yg sekadar lewat " (HR Bukhari)
Dunia yg fana ini hendaknya jangan membuat kita terlena. Perlakukanlah seolah kita orang asing yang singgah atau sekadar rekreasi sementara waktu karena rumah yg sesungguhnya adalah di akhirat. Oleh karena itu, ketika kita menemukan banyak sekali barang dan fasilitas dunia yg menggiurkan, ambillah sekadar yg kita perlukan untuk bekal perjalanan kita menuju akhirat (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
Dunia yg fana ini hendaknya jangan membuat kita terlena. Perlakukanlah seolah kita orang asing yang singgah atau sekadar rekreasi sementara waktu karena rumah yg sesungguhnya adalah di akhirat. Oleh karena itu, ketika kita menemukan banyak sekali barang dan fasilitas dunia yg menggiurkan, ambillah sekadar yg kita perlukan untuk bekal perjalanan kita menuju akhirat (Kaya dan Bahagia dg Syukur, 2010)
Utamakan akhirat diatas dunia
Wahai manusia, waspadalah kalian kepada dunia dan jangan kamu percaya sedikit pun kepadanya, utamakan akhirat atas dunia dan cintailah ia. Jika salah satu dari keduanya kamu cintai maka kamu akan membenci yang lain (Abu Bakar Assiddiq ra)
Jumat, 15 April 2011
Alasan Orang Kafir Tidak Akan Masuk Surga
Alasan Orang Kafir Tidak Akan Masuk Surga
Aisyah bertanya, "Wahai Rosulullah, Ibnu Jad'an (seorang kafir Qurais) selalu menyambungkan tali silaturahmi, memberi makan kaum miskin, berbuat baik kepada tetangga, dan menjamu setiap tamu. Apakah amal kebaikannya itu mendatangkan pahala?"
Rosulullah saw menjawab, "Wahai Aisyah, ia tidak perna...h berdoa agar ALLAH mengampuni dosa-dosanya pada hari kiamat" (HR Muslim)
Aisyah bertanya, "Wahai Rosulullah, Ibnu Jad'an (seorang kafir Qurais) selalu menyambungkan tali silaturahmi, memberi makan kaum miskin, berbuat baik kepada tetangga, dan menjamu setiap tamu. Apakah amal kebaikannya itu mendatangkan pahala?"
Rosulullah saw menjawab, "Wahai Aisyah, ia tidak perna...h berdoa agar ALLAH mengampuni dosa-dosanya pada hari kiamat" (HR Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)