Senin, 30 Mei 2011
Cengkeraman dunia pada manusia
Abu Bakar Ash-Shiddiq ra berkata, “Pada suatu hari ketika aku bersama Rosulullah saw, maka beliau menggerakkan tangannya seolah-olah menolak sesuatu, sedangkan aku tidak melihat sesuatu apa pun di depan beliau. Tanyaku, “Wahai Rosulullah saw, mengapa engkau menggerakkan tanganmu seolah-olah menolak sesuatu, padahal aku tidak melihat sesuatu apa pun dihadapanmu?”. Beliau saw bersabda, “Diperlihatkan kepadaku seolah-olah dunia hendak mendatangi aku, maka kataku, “Pergilah kamu dari aku, sebab aku tidak senang denganmu”. Kata Dunia, “Ketahuilah bahwa kamu tidak akan mendapatkan aku lagi. Demi ALLAH jika kamu dapat terlepas dari cengkeramanku, maka aku tidak akan melepaskan cengkeramanku terhadap terhadap orang-orang yang dating sepeninggalmu” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Khawatir tidak bertemu Nabi saw kelak karena mempunyai banyak harta
Abu Ubaidah bin Jarrah ra terlihat menangis ketika ia dikunjungi oleh salah seorang kawannya. Tanya kawannya, “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Ubaidah?”. Jawab Abu Ubaidah, “Aku menangis dikarenakan aku ingat sabda Nabi saw yang berkata, “Kelak akan dibukakan pintu kekayaan bagi umatku wahai Abu Ubaidah, sebaik-baiknya harta yg kamu miliki adalah tiga budak, seorang membantumu, seorang lagi menemani kamu dalam perjalananmu, dan seorang lagi melayani keluargamu, sebaik-baik kendaraan yang kamu miliki ada tiga, seekor untuk kamu tunggangi, seekor lagi untuk mengangkut barangmu, seekor lagi untuk keperluan keluargamu,” sedangkan kini aku memiliki banyak budak dan banyak kendaraan, sehingga aku khawatir kalau aku tidak dapat bertemu dengan Rosulullah saw kelak, sebab Rosulullah saw telah bersabda, “Seorang yg paling aku cintai dan paling dekat dengan aku kelak adalah seorang yang tidak memiliki harta kekayaan apa pun sebagaimana ia berpisah denganku” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Takut tidak bertemu Nabi saw kelak karena banyak harta
Ketika Muawiyah ra mengunjungi Abu Hasim bin Utbah yang sedang sakit, maka didapatkan ia menangis. Kata Muawiyah, “Wahai paman, apa yg menyebabkan kamu menangis, apakah kamu sakit ataukah kamu takut meninggalkan dunia?”. Jawab Abu Hasim, “Tidak, aku tidak sakit dan aku tidak takut untuk meninggalkan dunia, tetapi kami pernah diperintah Rosulullah saw, namun kami tidak dapat melaksanakannya”. Tanya Muawiyah, “Apa yg diperintahkan Rosulullah saw kepada kalian?”. Jawab Abu Hasyim, “Aku pernah mendengar Rosulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang kamu miliki adalah seorang pembantu dan sebuah kendaraan yang dapat dipakai berjuang fisabilillah, sedangkan aku telah mengumpulkan kekayaan sebanyak ini, karena itu aku takut bila aku tak akan bertemu dengan Rosulullah saw di akhirat kelak” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Menangis karena banyak harta
Ketika Salman ra sakit, maka Sa’ad ibnu Abi Waqas ra mengunjunginya. Disaat itu dilihat salman sedang menangis. Tanya Sa’ad, “Wahai saudaraku, mengapa engkau menangis, bukankah engkau telah menjadi sahabat Rosulullah saw. Bukankah engkau akan menemui beliau di tepi telaga Kautsar dan bukankah engkau termasuk orang yang diridhai oleh beliau ketika beliau wafat?”. Jawab Salman, “Bukannya aku menangis disebabkan aku takut kematian, akan tetapi Rosulullah saw telah menyuruh kami sesuatu, namun aku tidak dapat melaksanakannya. Karena itu aku takut akan hal itu”. Tanya Sa’ad, “Apa yg disuruh oleh Rosulullah saw sedangkan kamu tidak dapat melaksanakannya?”. Jawab Salman, “Bukankah Rosulullah saw telah bersabda, “Sebaik-baik harta yang kamu miliki adalah sebanyak perbekalan seseorang yang hendak bepergian”. Sedangkan aku kini memiliki harta yang berlimpah ruah, karena itu aku merasa berdosa kepada beliau” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Aku Kawatir Kalian Ditimpa Kekayaan
Rosulullah saw bersabda, “Aku tidak kawatir jika kalian ditimpa musibah (kemiskinan), yang aku kawatirkan ialah jika kalian sedang ditimpa kesenangan (kekayaan), sebab jika ditimpa suatu musibah, maka kalian akan dapat beribadah, tetapi jika ditimpa kesenangan, maka kalian akan lupa diri” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Jauhi meminta-minta
Pada suatu hari di musim paceklik Abu Said pernah mengganjal perutnya dengan batu dikarenakan lapar. Kata istrinya, “sebaiknya kamu dating kepada Nabi dan mintalah sesuatu dari beliau, sebab si Fulan pernah dating kepada Nabi dan untuk meminta sesuatu dari beliau, maka Nabi memberinya”. Mendengar anjuran itu, maka aku dating kepada Nabi saw yang ketika itu sedang berkhutbah, “Barangsiapa yang menjaga dirinya dari meminta-minta, maka ALLAH akan menjauhkan dirinya dari meminta-minta. Seorang yang merasa cukupo dengan apa yang ada padanya jauh lebih kami senangi dari seorang yg meminta-minta”. Mendengar sabda Nabi saw tersebut, maka aku bertekad untuk tidak meminta kepada siapapun walaupun keadaanku serba kekurangan, dan tidak lama kemudian, maka ALLAH memberikan kecukupan kepadaku sehingga hartaku melebihi jumlah harta orang lain. (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Sehari lapar sehari kenyang
Nabi saw bersabda, “Pernah aku ditawari oleh Tuhanku emas sepenuh lembah Bathhaa’ (di mekah) tapi aku tolak dan aku hanya minta diberi kenyang sehari, lapar sehari agar aku dapat merendah diri kepada ALLAH dan ingat kepada-NYA jika aku sedang lapar, dan agar aku dapat bersyukur dan memuji-NYA jika aku sudah kenyang” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Menjadi Raja dunia atau menjadi Nabi biasa
Ibnu Abbas ra berkata, “Pernah ALLAH mengutus Malaikat Isrofil beserta Jibril untuk dating kepada Nabi saw. Kata Malaikat Isrofil tersebut, “Sesungguhnya ALLAH memberikan pilihan bagimu (Muhammad), apakah kamu mau dijadikan sebagai seorang hamba dan Nabi, ataukah mau dijadikan sebagai seorang raja (yg kaya raya dan berkuasa) dan Nabi?”. Mendengar pertanyaan itu, Rosulullah saw menoleh kepada Jibril seolah-olah meminta pendapat beliau, maka Jibril memberi isyarat kepada Nabi agar beliau berlaku tawadhu. Maka Rosulullah saw berkata, “Aku ingin dijadikan sebagai seorang manusia biasa dan Nabi” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Murung karena terlalu banyak harta
Sa’daa ra (istri Thalhah ra) berkata, “Pada suatu hari aku dapatkan Thalhah ra terlihat amat murung. Tanyaku, “Apa yg menyebabkan anda menjadi seorang pemurung, mungkin kamu terlalu memikirkan kami?”. Jawab Thalhah, “Tidak, akan tetapi aku mendapatkan uang terlalu banyak sehingga aku tidak tahu hendak aku kemanakan uang ini”. Kataku, “Mengapa kamu terlalu bingung dalam menghadapi hal itu, panggilkan kaummu kemudian bagikan kepada mereka harta yg menyebabkan kamu bingung”. Kata Thalhah ra, “Panggilkan seluruh kaumku untuk aku bagikan kepada mereka semua harta yang aku miliki”. Tanyaku pada si penjaga gudang, “Berapa jumlah harta yg dibagikan pada waktu itu”. Kata si penjaga gudang, “Jumlah harta yg dibagikan pada waktu itu ada empat ratus ribu dirham” (Kehidupan Para Sahabat Rosulullah saw, 2003)
Senin, 23 Mei 2011
Infaq Abdurrahman bin Auf ra
Ketika Aisyah ra sedang berada di rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara ramai di Madinah, sehingga ia sempat bertanya, “Suara apa yg ramai itu?” Kata mereka, “Itu adalah suara kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf yg datang dari syam dengan membawa berbagai macam kebutuhan”. Dan dikatakan bahwa kafilah dagang tersebut sebanyak tujuh ratus ekor unta sehingga kota Madinah menjadi ramai oleh karenanya. Mendengar kejadian itu maka Aisyah ra berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah saw bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku bahwa Abdurrahman bin Auf dimasukkan ke dalam surga dengan merangkak”. Ketika ucapan tersebut terdengar oleh Abdurrahman, maka Abdurrahman ra berkata, “Aku ingin masuk surga dengan berjalan”. Kemudian ia menyerahkan seluruh unta lengkap dengan peralatannya tersebut untuk disedekahkan fisabilillah. (Kehidupan Para Sahabat Rosullullah saw, 2003)
Langganan:
Postingan (Atom)