Rabu, 12 Januari 2011

Pasukan setan penggoda manusia

Rosulullah saw bersabda, "Semoga ALLAH melaknat orang yg terlaknat". Ali ra pun bertanya, "Siapakah orang yg baru saja engkau laknat?". Beliau bersabda, "Iblis yg jahat, musuh ALLAH swt. Dia telah memasukkan ekornya kedalam duburnya kemudian menelorkan tujuh butir telur. Mereka adalah anak-anaknya yg diserahi menggoda anak Adam. Yang pertama dari mereka al-mudhisy yg diserahi menggoda ulama dan menyeret mereka ke berbagai keinginan yg berbeda. Kedua bernama hudaits yg menggoda orang ketika sholat, membuatnya lupa berdzikir, mempermainkannya sebentar, sehingga mengantuk dan tertidur. Ketika dikatakan kepadanya, 'kamu telah tertidur', dia berkata, 'aku tidak tidur'. Kemudian dia shalat tanpa berwudhu. Demi Dzat Yang nyawa Muhammad d itangan-NYA, sungguh dia akan membuatnya selesai sholat tetapi tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali separuh, seperempat, atau sepersepuluhnya, dan dosanya lebih banyak dari pahalanya. Yang ketiga bernama az-zalbinun, yang bertugas menggoda orang dipasar. Dia akan memerintahkan kepada orang di pasar untuk mengurangi timbangan, berbohong, menipu dalam jual beli, menghiasi dagangannya, dan memujinya supaya laku. Yang ke empat bernama bitr. Dia bertugas menggoda orang supaya merobek baju, menampar muka, dan meratap-ratap ketika datang musibah, sehingga pahala orang yg terkena musibah itu hilang. Kelima bernama mansyuth, yg bertugas menggoda orang supaya menyebarkan fitnah, berita bohong, mengumpat, dan memaki, sehingga orang itu jatuh dalam dosa. Ke enam bernama wasim yg meniup kemaluan suami supaya malas menggauli istrinya sehingga masing-masing berbuat zina dengan kawannya. Ke tujuh bernama al-a'war yg bertugas menggoda orang supaya mencuri, dia berkata kepada pencuri, 'ambillah barang itu agar kamu tidak kekurangan, kamu bisa membayar utangmu, dan bisa menutup auratmu, dan nanti kamu dapat bertaubat'.
Jadi seorang mukmin harus selalu waspada terhadap syaitan dalam setiap keadaan. Jangan merasa aman dari syaitan dalam segala urusannya" (Al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani, 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar